Saat Taklukan Mesir, Napoleon Tertarik Pada Islam

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA– Inggris Dianggap sebagai musuh bebuyutan Prancis. Hal ini membuat penguasa Prancis saat itu Napoleon Bonaparte bersama pasukan militernya tak pernah berhenti untuk terus menguasai wilayah-wilayah yang diduduki Inggris maupun sekutunya  di seluruh dunia termasuk Mesir.

Di abad ke-14, Napoleon mulai memimpin masukan militer Prancis dalam peperangan untuk menguasai wilayah-wilayah. Ia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Eropa.

Saat menaklukan Mesir, Napoleon belajar sesuatu yang baru dalam hidupnya, Islam. Saat itu Napoleon masih berusia muda, 28 tahun. Ia tiba di Aleksandria pada bulan Juli 1798.

Napoleon Bonaparte
Napoleon Bonaparte

Dalam sekejap, Alexandria lalu Kairo jatuh ke tangan Prancis. Saat itu Mesir merupakan bagian dari Kekhalifahan Turki Utsmani dan secara langsung diperintah oleh golongan bekas prajurit-budak, Mamluk.

Beberapa catatan menunjukkan Napoleon mempelajari banyak hal tentang Nabi Muhammad SAW ketika dia menaklukkan Mesir. Usaha Nabi Muhammad membangun kekuatan dengan menghindari pertumpahan darah adalah hal yang memukau bagi Napoleon.

Dan hampir bisa dipastikan melalui Alquran terjemahan Claude-Etienne Savary (1750-1788), Napoleon mengetahui sikap-sikap politik Muhammad seperti Piagam Madinah dan surat perjanjian lain yang sesuai dengan semboyan bangsa Prancis: Kemerdekaan (Liberte), Kesetaraan (Egalite) dan Persaudaraan (Fratenite). Al-Quran terjemahan pun dijadikan sebagai panduan saat Napoleon kemudian menyusun hukum di negaranya, Prancis.

Demikian kagumnya terhadap Nabi Muhammad SAW dalam ekspedisinya ke Mesir, Napoleon memerintahkan pasukannya untuk menghormati muslim dan agamanya.

”Orang-orang yang ada di tempat dimana kita akan tinggal adalah Mahometan (pengikut Nabi Muhammad), kalimat pertama mereka adalah, ‘tiada Tuhan selain Allah dan Mahomet adalah rasulNya, jangan menentang mereka”.

“Berikan upacara penghormatan terhadap Quran dan masjid-masjid mereka dengan toleransi yang sama sebagaimana yang kalian tunjukkan terhadap Synagogue (pusat agama Yahudi), Agama Musa dan Yesus Kristus,” Kata Napoleon.

Napolein pun tak mau membabi buta menyerbu Mesir.  Selain membawa sekitar 40.000 prajurit, ia juga membawa rombongan ahli filsafat, ilmuwan, seniman, musikus, astronomer, arsitek, ahli binatang, insinyur.

Maka dengan segala cara Napoleon terus meningkatkan hubungan baik dengan orang-orang Mesir. Napoleon juga menugaskan para ilmuwan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat Mesir. Semakin banyak ide-ide baru untuk ia terapkan di Mesir dan segera mencapai misi-misinya.

Untuk mendapatkan simpati lebih dari masyarakat Mesir, Napoleon juga melakukan perbaikan-perbaikan fasilitas umum. Ia memberikan penerangan dengan dipasangnya lampu-lampu penerangan, jalan-jalan mulai dibersihkan, serta dibangunnya jembatan dengan arsitektur modern.

Dibentuk pula lembaga ilmiah yang bernama Insitute d’Egyte. Awalnya masyarakat Mesir mempelajari tentang banyak pemahaman keagamaan, namun ketika memasuki lembaga ilmiah tersebut, bahan pengajarannya jauh dari konteks keagamaan.

Di lembaga ilmiah itu lebih mengutamakan sesuatu duniawi dan sangat menagungkan akal pikiran. Sebelumnya masyarakat Mesir mempelajari cara menulis Al-Quran, membaca Al-Quran, nahwu, sorof, teologi, ilmu logika, adapun ilmu dunia yang hanya sebatas matematika dasar.

Ide-ide dari Napoleon memang belum sepenuhnya mempunyai pengaruh kuat dan memberikan pengaruh nyata kepada rakyat Mesir. Akan tetapi, hal itu bisa membuka mata bagi Kaum Muslim kala itu tentang kelemahan dan kemunduran Mesir yang masih terisolasi oleh bangsa lain.

Reporter : Irania Zulia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini