Ternyata, Selain Kanker Darah Ani Yudhoyono Pernah Idap 2 Penyakit Serius Ini

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Kepergian ibu negara Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono meninggalkan duka mendalam tak hanya bagi keluarga, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Sepeninggal almarhumah, berbagai kisah beliau saat hidup pun terungkap.

Salah satunya adalah cerita tentang sejumlah penyakit yang pernah diidap almarhumah selain kanker darah. Tak banyak yang tahu, selain kanker darah Ani Yudhoyono ternyata sempat mengidap penyakit lain.

Hal itu diungkapkannya dalam buku berjudul ‘Ani Yudhoyono: 10 Tahun Perjalanan Hati’ yang ditulis oleh Alberthiene Endah.

“Ketika menjadi Ibu Negara, saya sempat empat kali diopname. Dua di antaranya cukup parah karena harus menjalani operasi,” kata Ani dalam buku tersebut, dikutip Minggu, 2 Juni 2019.

Salah satunya ia dirawat di rumah sakit pada Februari 2012 lantaran terserang penyakit batu empedu. Ani Yudhoyono kemudian mendapatkan tindakan operasi pengangkatan atu empedu di RSPAD, Gatot Subroto pada 16 Maret 2012.

Selain batu empedu, almarhumah juga pernah menjalani operasi saraf di Allegheny General Hospital, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Operasi tersebut dilakukan untuk menyembuhkan bahu Ani Yudhoyono yang seringkali terasa kaku.

Berita Terbaru

Optimalisasi CKG dalam Meningkatkan Kesehatan Berkualitas bagi Lansia

Oleh: Ayu Swastika )*Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) semakin menunjukkan peranstrategisnya sebagai instrumen utama pemerintah dalam membangunkualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok lansia. Di tengah meningkatnya angka harapan hidup, kebutuhan akan layanankesehatan yang bersifat preventif menjadi semakin penting. Pemerintah secara konsisten mendorong penguatan deteksi dini sebagaipendekatan utama guna mengurangi beban penyakit kronis yang selamaini mendominasi penyebab kematian nasional.Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwapemeriksaan kesehatan minimal satu kali dalam setahun merupakanlangkah mendasar yang perlu dilakukan seluruh masyarakat. Penekanantersebut didasarkan pada tingginya angka kematian akibat penyakit tidakmenular seperti stroke, jantung, dan gagal ginjal. Tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular ini menunjukkanbahwa masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan deteksi dinisecara optimal, padahal langkah tersebut dapat menjadi kunci dalammencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih serius.*) Pengamat Kebijakan SosialData yang dihimpun menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebabkematian tertinggi dengan kisaran ratusan ribu kasus setiap tahun, disusuloleh penyakit jantung, kanker, dan gangguan ginjal. Fakta inimemperlihatkan bahwa ancaman penyakit kronis masih sangat nyata, terutama bagi lansia yang memiliki kerentanan lebih tinggi. Dalam pandangan Menkes, penyakit-penyakit tersebut sebenarnyamemiliki periode laten selama beberapa tahun sebelum mencapai kondisifatal. Pada fase inilah intervensi melalui pemeriksaan rutin menjadi sangat krusial untuk menekan risiko kematian.Upaya pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui pemantauanindikator kesehatan dasar seperti tekanan darah, gula darah, dan kadarkolesterol. Ketiga indikator ini menjadi parameter penting dalammengidentifikasi potensi penyakit sejak dini. Namun dalam praktiknya, banyak masyarakat yang mengabaikan kondisitersebut karena tidak merasakan gejala yang signifikan. Akibatnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini