Beberapa Seniman Korea Selatan Pernah Diculik Korea Utara

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Beberapa seniman asal Korea Selatan mengaku pernah diculik oleh Korea Utara dengan berbagai alasan, salah satunya adalah propaganda politik. Penculikan seniman Korea Selatan terjadi sejak Perang Korea di tahun 1950 sampai 1953, bahkan hingga setelahnya.

Lantas, siapa saja seniman terkemuka Korea Selatan yang pernah diculik Korea Utara?

  1. Jeong Soon-Cheol, komposer “Graduation Song”

Jeong Soon-Cheol lahir di Okcheon (kota yang jaraknya sekitar 150km dari Seoul) pada 1901. Ia merupakan cucu Choe Si-hyung, pemimpin ke-2 dari Gerakan Revolusi Petani Donghak pada masa Dinasti Joseon.

Karena minatnya pada pendidikan anak begitu tinggi. Ia bergabung dengan Partai Pemuda Chondoist yang didirikan oleh Kim Ki-jeon dan Bang Jeong-hwan.

Partai Pemuda Chondoist secara aktif memimpin gerakan feminis, gerakan petani, dan gerakan fisik dalam rangka meningkatkan wawasan masyarakat. Pada 16 Maret 1923, partai itu pun memulai Gerakan Pencerahan Remaja atau disebut juga “Saekdonghoe“. Gerakan tersebut merupakan gerakan pemuda pertama untuk melindungi hak anak-anak di Korea Selatan. Sejak itu, pada 1 Mai ditetapkan sebagai Hari Anak di Korea Selatan.

Di tahun yang sama, Soon-Cheol mulai berkuliah di Universitas Musik Tokyo bersama teman seperjuangannya di Partai Pemuda Chondoist, yaitu Yun Geuk-young.

Sejak kuliah, Soon-Choel membuat banyak lagu anak-anak dengan total 40 lagu. Salah satu lagunya yang terkenal adalah “Graduation Song” pada 1946. Lagu itu sangat menyentuh hati rakyat Korea karena tidak ada lagu untuk wisuda perguruan tinggi dalam Bahasa Korea.

Jeong Soon-Cheol pun dianggap sebagai pelopor lagu anak-anak dan komposer kenamaan Korea Selatan pada saat itu.

Lalu ketika Soon-Choel menjadi pengajar di salah satu sekolah Korea Selatan dan sedang sendirian, tepatnya pada 18 September 1950, ia diculik oleh tentara Korea Utara. Mulai saat itu keberadaannya pun tak pernah diketahui, bahkan tidak bisa dipastikan apakah dia masih hidup atau tidak.

  1. Lee Gil-Yong, wartawan yang menghapus bendera Jepang

Lee Gil-Yong adalah wartawan olahraga di Donga Ilbo pada masa pendudukan Jepang di Korea. Ia terkenal karena menghapus bendera Jepang yang ada di bagian dada kaus Son Gi-Jeong ketika Son meraih medali emas maraton di Olimpade Berlin tahun 1936.

Son yang merupakan pribumi Korea, saat itu resmi bertanding di bawah delegasi Jepang. Dia harus mengenakan bendera Jepang dan lagu kebangsaan Jepang untuk diperdengarkan saat dia menerima medali emas,

Itulah sebabnya Son menundukkan kepala dalam upacara penerimaan medali.

Lee Gil-Yong bersama Lee Sang-Beom, sebagai wartawan dan seorang seniman. Mereka menghapus bendera Jepang dari bagian dada kaus Son.

Tindakan itu menyebabkan Lee Gil-Yong ditangkap polisi Jepang dan disiksa habis-habisan. Ia pun dipaksa untuk pensiun dari dunia jurnalistik.

Ketika Perang Korea pecah, Lee ditangkap tentara Korea Utara dengan dugaan berpartisipasi dalam kegiatan politik dan gerakan menentang administrasi PBB di wilayah tertentu di dunia.

Lee diinterogasi dan dibawa ke Korea Utara. Sejak saat itu, nasib Lee Gil-Yong juga tidak diketahui.

  1. Jeong Ji-Yong, penyiar puisi “Nostalgia”

Jeong Ji-Yong merupakan seorang penyair yang dicintai rakyat Korea karena puisinya yang berjudul “Nostalgia”. Dia dipuja sebagai penyair yang mengembangkan puisi modern Korea dengan bahasa-bahasa yang emosional.

Setahun setelah masuk sekolah menengah Seoul Whimoon tahun 1918, Ji-Yong memimpin sebuah gerakan protes pada masa kemerdekaan Korea. Tak lama kemudian, ia menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah itu.

Ketika Perang Korea terjadi, Ji-Yong masuk penjara Seodaemun di Seoul. Di situ lah ia diculik ke Korea Utara.

Teori yang beredar menyatakan dia tewas karena bom saat penculikan. Namun, beberapa pihak yakin jika Ji-Yong secara sukarela menyeberang ke Korea Utara karena ingin bergabung dengan organisasi beraliran politik kiri, yaitu Chosun Writers Association.

  1. Pasangan Suami Istri, Pianis Baek Geon-Woo dan Aktris Yoon Jeong-Hee

Pada awal Juli 1977, 24 tahun setelah Perang Korea berakhir. Pasangan suami istri, pianis kenamaan Korea Selatan, Baek Geon-Woo, dan aktris Yoon Jeong-Hee diundang untuk sebuah resital piano oleh seorang jutawan Swiss, Michael Pablovich.

Keduanya memutuskan untuk menghadiri acara tersebut bersama putri mereka yang baru berusia lima bulan.

Namun, ketika tiba di Swiss, pria yang menyambut mereka menyatakan bahwa resital piano akan digelar di rumah ayah Pablovich di Yugoslavia (salah satu negara komunis pada saat itu). Pria itu pun memberikan mereka tiket pesawat untuk terbang ke sana.

Lalu, ketika melihat adanya maskapai penerbangan Korea Utara, Chosun Minhang, di wilayah Zagreb, ibu kota Yugoslavisa saat itu. Keduanya langsung curiga.

Alamat yang disebut sebagai tempat resital piano juga berada di kawasan pinggiran dan pria yang menanti mereka adalah orang Asia.

Baek pun merasa bahwa pria itu adalah warga Korea Utara. Ia pun langsung memanggil taksi untuk menuju ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di sana.

Ketiganya berhasil melarikan diri ke Paris, berlindung di Kedubes AS selama 22 jam dan hasil penyelidikan membuktikan bahwa jutawan Swiss tersebut sebenarnya tidak ada.

Sejak peristiwa itu, Baek mengalami trauma dan dilaporkan selalu minta perlindungan oleh Kedutaan Besar Korea Selatan setiap kali dia berkunjung ke negara yang memiliki Kedutaan Besar Korea Utara.

  1. Aktris terkenal Choi Eun-Hee dan suaminya, sutradara Shin Sang-Ok

Choi Eun-Hee lahir tahun 1926 di Gyeonggido Gwangju. Ia debut sebagai aktris pada tahun 1942 dalam film Cheongchun GeukJang (Teater Muda) dan menjadi aktris paling terkenal di Korea pada era 1950-an hingga 1970-an.

Dia dan suaminya, Shin Sang-ok, pun meroket menjadi pasangan sutradara dan bintang film yang paling dipuja di Korea Selatan.

Suaminya, Shin Sang-Ok, merupakan sutradara yang telah menghasilkan film-film terkenal. Salah satunya adalah film Mother and a Guest, yang diangkat dari novel karya Choo Hyo-Seop. Film karya Shin itu ditayangkan di Jepang, Festival Film Venice, maupun Academy Awards.

Meski begitu, hubungan rumah tangga mereka tak berlangsung lama. Pada akhir tahun 1970-an, keduanya bercerai dan setelah itu karier Choi merosot turun.

Pada masa tersebutlah, Choi didekati oleh seseorang yang mengaku sebagai pengusaha Hong Kong. Pengusaha itu berencana mendirikan perusahaan pembuat film yang akan memberi keuntungan besar.

Berdasarkan buku “A Kim Jong-il Production”, Choi dibujuk untuk pergi ke Hong Kong, tapi begitu tiba di sana, ia ditangkap dan dibuat pingsan oleh sekelompok pria Hong Kong. Choi dibawa ke Makau sebelum akhirnya delapan hari kemudian berada di sebuah vila mewah di ibu kota Korea Utara, Pyongyang, dengan penjagaan yang sangat ketat.

Walau sudah bercerai, Choi masih tetap akrab dengan mantan suaminya, yang kemudian pergi ke Hong Kong untuk menemuinya. Namun, Shin juga diculik.

Kim Jong-il, pemimpin Korea Utara saat itu, dikenal sebagai penggemar film dan keranjingan menonton film-film Hollywood. Dia berharap kehadiran kedua insan film itu di negaranya akan membuat industri film Korea Utara bisa bersaing di panggung internasional.

Choi yang diculik sejak Januari dan Shin diculik pada Juli 1978. Keduanya diharuskan tinggal dan berkarya di Korea Utara. Mereka pun menikah kembali.

Setelah delapan tahun, pasangan itu telah memproduksi 17 film, seperti Salt dan Bulgasari di bawah instruksi Kim Jong-il.

Choi dan Shin juga akhirnya mendapat kepercayaan Kim Jong-il untuk melakukan perjalanan ke Wina dalam rangka mempromosikan film mereka.

Namun, ketika berada di Wina, keduanya melarikan diri dan langsung mencari perlindungan di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Beberapa tahun kemudian, keduanya baru pulang kembali ke Korea Selatan.

Kisah tentang pasangan itu pun menarik perhatian dunia dan tahun 2016 lalu diangkat ke dalam layar lebar dengan judul “The Lovers and the Despot”.

Shin pun meninggal dunia pada April 2006, sedangkan Choi pada Senin, 16 April 2018.

Reporter: Indah Utami

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Upaya Bersama Diperlukan untuk Jaga Situasi Kondusif Saat Idul Fitri

Oleh: Hafidz Ramadhan Pratama Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang selalu identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, dinamika sosial, serta potensi kerawanan keamanan, kebutuhan akan sinergi lintas sektor menjadisemakin mendesak untuk diwujudkan secara konkret. Stabilitas keamanan dan ketertibanmasyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan jugamemerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga peran strategismedia sebagai penyampai informasi yang membentuk persepsi publik. Dalam konteks ini, menjaga suasana kondusif bukan sekadar upaya teknis, tetapi juga merupakan bagian darikomitmen kolektif dalam merawat persatuan di tengah keberagaman. Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasiantara kepolisian dan media melalui momentum buka puasa bersama insan pers yang tergabungdalam Pokja Polda Jatim. Kegiatan yang turut dihadiri Wakapolda Jatim Brigjen Pasma Royce serta jajaran pejabat utama tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi yang terbuka dansinergitas yang solid merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas daerah, khususnya saatada agenda nasional dan Idul Fitri. Dalam pandangannya, insan pers memiliki posisi strategissebagai mitra kepolisian dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepadamasyarakat, sehingga mampu mencegah berkembangnya informasi yang menyesatkan. Irjen Nanang Avianto juga melihat bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai penyampaiinformasi semata, tetapi juga berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika sosial yang berkembang. Dalam situasi yang rawan terhadap provokasi dan penyebaran informasi yang tidakterverifikasi, media diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang edukatif sertamembangun opini publik yang konstruktif. Dengan demikian, masyarakat tidak mudahterpengaruh oleh isu-isu yang dapat memicu keresahan atau konflik. Ia menekankan bahwaketerbukaan informasi publik merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkantransparansi dan akuntabilitas, yang pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan masyarakatterhadap institusi negara. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Wakil Gubernur Abdullah Vanath turutmengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama, terutama karena perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Abdullah Vanath menilai bahwa masyarakat Maluku memiliki pengalaman panjangdalam menjaga kebersamaan, sehingga diharapkan mampu mempertahankan kondisi yang amandan damai. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan kedewasaan dalamkehidupan sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memecahbelah persatuan. Abdullah Vanath juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu harus dijadikan pelajaran agar konflik serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tidak ada alasan bagi masyarakat untukkembali pada situasi yang pernah menimbulkan perpecahan. Justru, momentum perayaankeagamaan harus dimanfaatkan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan saling menghormati. Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya menjadi konsep normatif, tetapi harus diwujudkandalam sikap nyata, seperti menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing umat beragama. Langkah konkret juga ditunjukkan melalui koordinasi yang dilakukan Pemerintah ProvinsiMaluku dengan forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh agama, serta aparat keamanan. Sinergi ini bertujuan memastikan bahwa seluruh potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini, sehingga perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Pendekatankolaboratif ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak dapat dicapai secara parsial, melainkanmelalui kerja sama yang terintegrasi. Hal senada juga disampaikan Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol Edy Murbowo S.I.K. M.Si. yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan danketertiban wilayah saat perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Dalam keterangannya, Irjen Edy Murbowo menekankan pentingnya menjagakebersamaan dan memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai fondasi utama dalam menciptakanstabilitas keamanan. Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hiduprukun, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan. Irjen Edy Murbowo juga melihat bahwa momentum perayaan dua hari besar keagamaan yang berdekatan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Iamengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan masing-masing agar tetapaman dan kondusif, sehingga seluruh rangkaian perayaan dapat berjalan dengan tertib dan penuhkedamaian. Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggungjawab aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan berbagai capaian signifikan dalammenjaga stabilitas nasional, mulai dari keberhasilan mengendalikan inflasi terutama saat haribesar keagamaan, peningkatan efektivitas pengamanan arus mudik melalui koordinasi lintasinstansi, hingga penguatan layanan publik berbasis digital yang semakin memudahkanmasyarakat dalam mengakses informasi dan layanan. Selain itu, upaya memperkuat moderasiberagama serta pendekatan humanis yang dilakukan aparat keamanan juga berkontribusi dalammenciptakan suasana yang lebih kondusif di berbagai daerah, sehingga kepercayaan publikterhadap pemerintah terus meningkat. Dengan melihat berbagai upaya yang telah dilakukan oleh aparat keamanan, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa menjaga situasi kondusif saat Idul Fitrimembutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan. Sinergi antara media, pemerintah, danmasyarakat harus terus diperkuat agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus menjaga persatuan, meningkatkantoleransi, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai, sehinggamomentum Idul Fitri benar-benar menjadi ajang mempererat kebersamaan dan memperkuatharmoni sosial di Indonesia. *) Peneliti Keamanan Dalam Negeri dan Komunikasi Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini