Pemain AC Milan Bocorkan Rahasia Ibrahimovic Tetap Fit di Usia 39 Tahun

Baca Juga

MATA INDONESIA, MILAN – Di usia 39 tahun, Zlatan Ibrahimovic tetap tampil prima dan bisa bermain di level tinggi. Bek AC Milan, Matteo Gabbia membocorkan rahasia pemain asal Swedia itu tetap bugar.

Tak banyak pesepakbola yang bisa bermain di level tinggi di usia 39 tahun. Tapi, Ibrahimovic berbeda. Dia masih bisa bermain di kompetisi top dan produktif dalam urusan mencetak gol.

Sejauh ini Ibrahimovic sudah mengemas 16 gol untuk Milan. Ketajamannya tak luntur dimakan usia. Belum lama ini, dia mencatatkan 501 gol sepanjang kariernya. Sebuah pencapaian luar biasa untuk pemain di usia 39 tahun.

Hampir mirip dengan Cristiano Ronaldo, Ibrahimovic sangat menjaga kondisi kebugarannya dengan ketat. Keduanya juga sama-sama datang lebih awal di sesi latihan, dan pulang paling terakhir.

“Dia datang satu setengah jam lebih cepat di sesi latihan dan pulang satu setengah jam lebih lama setelah latihan selesai,” ujar Gabbia, dikutip dari Sempre Milan, Sabtu 13 Februari 2021.

“Jika Ibra bisa melakukannya di usia 39 tahun, setelah semua kesuksesan yang dia capai, mengapa saya tak bisa melakukannya di usia 20 tahun?” katanya.

“Dia adalah contoh bagi pemain muda. Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Apa yang dia lakukan membuat kami (pemain muda) paham bahwa di balik kesuksesan, pasti ada kerja keras,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Kota hingga Pelosok: Misi Kesehatan Berkualitas melalui CKG

Oleh : Ricky RinaldiPemerataan layanan kesehatan menjadi fokus penting pemerintah dalammemperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengah upaya memperluasakses layanan hingga ke wilayah terpencil dan pelosok, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir sebagai langkah strategis untuk memastikan masyarakat dapatmemperoleh pemeriksaan kesehatan secara mudah, gratis, dan berkualitas. Kehadiran program ini tidak hanya memperluas jangkauan layanan kesehatan, tetapijuga mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjagakesehatan sejak dini demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidupmasyarakat. Tanpa kondisi kesehatan yang baik, produktivitas masyarakat akanmenurun dan pembangunan sumber daya manusia sulit berjalan optimal. Oleh karena itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap wargamemiliki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai dan terjangkau.Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan kesehatan harusmenjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata. Pelayanan kesehatan tidakboleh hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara masyarakat di daerahterpencil menghadapi keterbatasan akses. Dalam kerangka tersebut, CKG menjadibagian dari upaya menghadirkan negara secara nyata dalam pelayanan kesehatanmasyarakat.Program CKG dirancang untuk memperkuat pendekatan preventif dalam sistemkesehatan nasional. Selama ini, masyarakat sering kali baru memeriksakan kondisikesehatan ketika penyakit sudah berkembang lebih serius. Melalui pemeriksaankesehatan gratis, masyarakat didorong untuk lebih dini mengenali kondisi tubuh dan melakukan langkah pencegahan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa penguatan layanankesehatan primer menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan nasional. Pemeriksaan kesehatan secara berkala memungkinkan deteksi dini terhadapberbagai penyakit, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Pendekatan ini juga membantu mengurangi beban pembiayaan kesehatan dalamjangka panjang.Pelaksanaan CKG tidak hanya difokuskan di pusat kota, tetapi juga diarahkanmenjangkau wilayah pelosok. Pemerintah memperkuat koordinasi dengan fasilitaskesehatan daerah agar layanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Kehadiran tenaga kesehatan di lapangan menjadi faktor penting dalam memastikanbahwa program berjalan efektif hingga ke tingkat komunitas.Bagi masyarakat di daerah terpencil, akses terhadap layanan kesehatan sering kali terkendala oleh jarak, keterbatasan fasilitas, dan minimnya tenaga medis....
- Advertisement -

Baca berita yang ini