Kelompok Media Raksasa Jerman Babak Belur Diserang Hacker

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Peretas atau hacker biasanya menargetkan perusahan-perusahan besar sebagai korbannya. Kali ini, giliran Funke Media Group  yang harus mengalami kejadian tak meyenangkan ini.

Funke Media Group merupakan sebuah kelompok surat kabar regional asal Jerman. Mereka telah menerbitkan sejumlah surat kabar dan majalah. Selain itu, mereka juga menjalankan beberapa stasiun radio dan portal berita online.

Perusahaan yang berbasis di Essen ini melaporkan sekitar 6.000 komputernya berpotensi terinfeksi dalam serangan hacker. Hal ini pertama kali dikonfirmasi oleh Carsten Erdmann, pemimpin redaksi Zentral Redaktion, salah satu surat kabar milik Funke Media Group, di akun media sosialnya, Jumat 1 Januari 2021.

Andreas Tyrock, pemimpin redaksi Westdeutche Allgemeine Zeitung, mengatakan bahwa serangan hacker ini telah mengenkripsi data pada sistem komputer Funke Media Group sehingga data-data tersebut tidak dapat digunakan lagi.

Selain merugikan pihak perusahaan, insiden ini juga merugikan pembaca. Seperti yang diketahui, Funke Media Group membawahi banyak perusahaan-perusahaan media. Sehingga, media-media tersebut yang harus menunda menerbitkan edisi regulernya terlebih dahulu.

Thuringar Allgemeine, surat kabar dari grup media Funke, menerbitkan artikel yang membahas tentang insiden ini. ”Banyak sistem komputer yang rusak karena peretasan ini. Sehingga, kami bekerja keras untuk memecahkan masalah yang ada,” kata mereka.

Sehari setelah peretasan terjadi, beberapa media grup Funke pun menerbitkan edisi daruratnya seperti Westdeutche Allgemeine Zeitung, Berliner Morgenpost, dan Hamburger Abendblatt.

Funke Media Group mengatakan jika pihaknya sudah mengantisipasi insiden seperti ini. Oleh karena itu, mereka membentuk gugus tugas yang berisikan ahli IT serta forensik internal dan eksternal. Langkah pertama yang mereka ambil ialah menutup semua sistem komputer di seluruh perusahan yang mereka miliki.

“Kami sedang bekerja keras untuk menyelesaikan kerusakan IT secepat mungkin,” kata juru bicara Funke Media Group. Meski sedang diretas, para pembaca masih dapat mengakses situs website dari perusahaan ini.

Sebelumnya, Funke Media Group mengklaim memiliki pembaca lebih dari 3,3 juta. Karena menerbitkan edisi darurat, perusahaan ini memberikan layanan ekstra kepada pembacanya berupa akses penuh ke semua berita onlinenya secara gratis.

Funke Media Group pun mengerahkan permasalahan ini ke pihak kepolisian. Oleh kejaksaan umum, perkara ini dilimpahkan ke Cybercrime Central and Contact Point (ZAC).

Meskipun perusahaan belum mengomentari tentang motif dibalik serangan ini, sangat memungkinkan jika hacker tersebut merupakan penjahat dunia maya yang akan meminta uang tebusan. Jenis kejahatan seperti ini memang sudah marak dilakukan. Biasanya, para hacker meminta Bitcoin sebagai imbalan untuk menyerahkan jaringan yang telah dicurinya.

Para ahli mengatakan jika serangan semacam ini sangat populer selama beberapa tahun terakhir di kalangan penjahat dunia maya. Bahkan, saat ini terjadi ribuan serangan setiap harinya di seluruh belahan dunia. Beberapa ahli juga percaya bahwa banyak dari kelompok hacker tersebut dibiayai oleh negaranya sendiri, terutama yang berbasis di Eropa Timur dan Asia.

Reporter: Diani Ratna Utami

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini