Risma: Tanggung Jawab Mensos Berat, Tangani Orang dalam Kondisi Susah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Usai ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Menteri Sosial (Mensos), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) berkomentar bakal memikul pekerjaan yang berat.

Karena kata dia, yang ditangani orang semua, orang yang susah, sedih, sulit. Kementerian anane wong susah kan (Kementerian urusi orang susah).

Dia mengatakan, dari sisi tanggung jawab, kedudukan Menteri Sosial bagi Risma adalah berat, karena menangani orang dalam kondisi susah.

“Artinya, aku baru review setelah pelantikan. Jadi Mensos itu baru resmi setelah pelantikan,” kata dia.

Untuk pekerjaannya nanti, ia mengaku bakal melakukan perjalanan mondar-mandir dari Jakarta menuju Surabaya, Jawa Timur karena rangkap jabatan sebagai Menteri Sosial (Mensos) dan Wali Kota Surabaya.

Hal tersebut dilakukan Risma untuk menyelesaikan masa baktinya sebagai Wali Kota Surabaya yang kurang lebih dua bulan lagi atau berakhir pada Februari 2021.

“Saya sudah matur ke Pak Presiden, ‘Pak, Bapak bagaimana Surabaya’ ‘Wes gak popo Bu Risma, nanti bisa pulang pergi begitu. Sambil nanti proses administrasinya seperi apa begitu,” kata Risma.

Risma juga sudah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. Namun, dia mengaku, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memberinya petunjuk, sementara masih bisa memimpin Surabaya.

“Tapi, Pak Presiden tadi aku sudah izin, Bapak bagaimana? Sudah, Bu Risma wira-wiri sementara begitu,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini