Musik Grunge Suara dari Kota Seattle

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Raungan distorsi gitar, suara serak dan ketukan drum yang tak beraturan. Itulah Grunge. Jenis musik rock yang muncul di era 90 an.

Jenis musik ini muncul dari Seattle, sebuah kota terbesar di wilayah Timur Laut Pasifik Amerika Serikat, terletak di negara bagian Washington antara Puget Sound dan Danau Washington, sekitar 180 km di sebelah selatan perbatasan Amerika Serikat-Kanada.

Kota ini sama dengan Bogor, dikenal sebagai Kota Hujan. Tak hanya itu, Seattle dikenal mempunyai reputasi akan konsumsi kopinya yang tinggi. Jaringan kedai kopi Starbucks berasal dari sini. Selain itu, perusahaan besar lainnya, misalnya Microsoft, Nordstorm, dan perusaahan pesawat Boeing juga bermarkas di Seattle Raya.

Dari kota inilah, seniman-seniman berbakat dalam satu wilayah meneriakan revolusi musik rock. Kata grunge berarti kotoran. Entah kenapa kotoran ini menggambarkan musik, gaya busana, dan gaya hidup yang secara eksklusif melekat di anak-anak muda di Seattle.

Anak-anak muda yang tinggal di kawasan itu sehari-hari mendengarkan musik sejumlah band seperti KISS, Black Sabbath, Led Zeppelin, dan AC / DC. Kota Seattle waktu itu baru saja melepaskan citra hippie tapi tetap mempertahankan nilai-nilai antikemapanan.

Berawal dari sebuah band bernama The Shemp, pada awal tahun 1980-an. Beranggotakan seorang drumer merangkap vokalis, Chris Cornell dan seorang bassis bernama Hiro Yamamoto. Kedua orang itulah yang kemudian bersama seorang gitaris Kim Thayil, membentuk sebuah band bernama Soundgarden. Ini terjadi pada 1984.

Untuk lebih memfokuskan diri pada vocal, Chris Cornell, kemudian mengambil inisiatif untuk merekrut seorang drumer, bernama Scott Sundquist. Kehadiran Sundquist, menambah lengkap formasi band ini. Dengan formasi ini pula Soundgarden hadir sebagai salah satu pengisi materi bagi album kompilasi yang kemudian menjadi salah satu tonggak bersejarah bagi perkembangan musik Grunge. Album Kompilasi berjudul, ‘Deep Six’, yang bermaterikan lagu-lagu dari band-band pelopor musik Grunge, dari Seattle, seperti The Melvins, Malfunkshun, Skin Yard, Green River, U-Men, dan Soundgarden, berhasil dirilis pada bulan Maret, 1986.

Band-band ini unik. Ciri khas mereka adalah sound gitar kasar, dan suara teriakan serak ala musik blues. Tak hanya itu, lirik-lirik yang mereka tulis juga antikemapanan, kasar dan cenderung mencaci-maki keadaan.

Sebagian sumber menyebutkan Grunge sebenarnya muncul sejak era kejayaan punk rock di tahun 1970-an. Pusatnya di Minneapolis, AS. Saat itu dengan musik yang nyaris minus sound effect, kecuali suara gitar yang sangat kasar, Grunge dinilai banyak kritisi musik yang tidak lebih dari “rock n roll” minus atribut.

Karakter Grunge terlihat dari band bernama Mother Love Bone. Band ini awalnya bernama Malfunkshun. Salah satu karakternya yang menonjol adalah sang vokalis Andrew Wood.

Wood kemudian berteman dengan Stone Gossard, Jeff Ament dan Bruce Fairweather. Mereka kemudian membentuk Mother Love Bone di tahun 1988.

Mother Love Bones
Mother Love Bones

Tak disangka, Band ini melejit karena keunikan musiknya. Sayangnya sang vokalis Wood masuk ke rehabilitasi karena perjuangannya dengan kecanduan heroin. Pada 16 Maret 1990, Wood ditemukan dalam keadaan koma oleh pacarnya, karena overdosis heroin. Wood dibawa ke Harborview Hospital dan diberi penunjang hidup. Meskipun menjadi responsif, Wood sudah menderita hemorrhage aneurysm, kehilangan semua fungsi otak. Pada 19 Maret para dokter menyarankan bahwa Wood dilepaskan dari penunjang hidup. Tempat pemakamannya berlokasi di Miller-Woodlawn Memorial Park di Bremerton, Washington.

Para personel Mother Love Bone kemudian membentuk band baru yang diberi nama Pearl Jam. Mereka mengaet vokalis dari luar kota Seattle yaitu Eddy Vedder.

Sebelum Pearl Jam merilis album, tiba-tiba muncul Nirvana di tahun 90 an. Album pertamanya Nevermind meledak di pasaran. Orang-orang sibuk mencari tahu, jenis musik apa yang diusung oleh Nirvana. Nama Kurt Cobain pun kemudian dikenal di seluruh dunia.

Selain Pearl Jam, Nirvana, Soundgarden, ada beberapa band lainnya seperti Temple of the Dog dan Alice in Chains juga dianggap sebagai band grunge. Anehnya, para personel band-band ini enggan menyebutkan aliran musik mereka sebagai grunge. Kurt Cobain malah terang-terangan mengatakan bahwa Nirvana adalah musik punk yang miskin konsep.

Para musisi ini tak mau dikotak-kotakan dengan jenis musik grunge. Mereka beranggapan bahwa grunge adalah gaya hidup. Tak heran, gaya hidup grunge pun dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Gaya berpakaian kasual ala anak-anak band itu tergolong murah untuk ditiru anak-anak muda. Modalnya celana jeans yang belel, kaos oblong, kemeja flanel, dan sepatu Converse.

Di antara banyak sekian band dari Seattle ini, Nirvana lebih sering disebut. Personel Nirvana, terutama Kurt Cobain, lebih dikenal dibanding musikus lainnya. Wajah Kurt sering menghiasi kaos anak-anak muda. Mereka bahkan tahu seluk beluk Cobain, setidaknya soal bagaimana ia mengakhiri hidup. Kisah sukses Nirvana pun berlanjut setelah drumer Nirvama Dave Grohl membentuk Foo Fighters.

Namun dalam perjalannya jenis musik ini tak bertahan lama. Muncul lagi jenis musik rock yang baru. Dan itu membuat Grunge hanya bertahan di era 90 an dan kemudian menjadi musik komunitas di kota Seattle.

Reporter: Fachmi Juniyanto, Anggita Prasetyani

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini