Sering Buka dan Sahur Sendirian? Waspada Gangguan Mental

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Banyak orang yang memilih tinggal dan hidup serta beraktivitas sendirian sehari-hari. Apalagi saat bulan Ramadan ini, tak sedikit orang menjalani waktu berbuka atau sahur tanpa ada yang menemani.

Tapi, tahukah kamu kebiasaan menyendiri itu meningkatkan risiko masalah kesehatan mental? Bahaya loh buat kamu yang setiap hari selama Ramadan, buka puasa sendirian, sahur pun tidak ada yang menemani.

Mengutip The Health Site, dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa kecenderungan masalah kesehatan mental lebih tinggi dialami bagi orang yang tinggal sendirian, tak peduli jenis kelamin atau usianya.

Penelitian yang dipublikasi dalam jurnal PLOS OINE ini melibatkan 20.500 partisipan berusia antara 16 sampai 64 tahun di Inggris. Mereka terlibat dalam National Psychiatric Morbidity Surveys yang diselenggarakan dalam 3 periode, yakni tahun 1993, 2000 dan 2007.

Hasil penelitian menemukan bahwa kecenderungan orang tinggal sendiri pada 1993, 2000, dan 2007 adalah 8,8 persen, 9,8 persen, serta 10,7 persen. Dari penelitian tersebut diketahui hubungan positif antara tinggal sendiri dan masalah kesehatan mental.

Diketahui, tinggal sendirian meningkatkan risiko masalah kesehatan mental sebesar 1,39 hingga 2,43 kali lipat. Sementara secara global, perkiraan seseorang mengalami masalah mental adalah 30 persen.

Penyakit ini memiliki dampak yang besar pada kualitas hidup, sakit fisik, dan kematian. Para peneliti menyarankan agar seseorang lebih terbuka dengan dunia luar, mencari kawan sebanyak-banyaknya dan mencari pasangan hidup sesegera mungkin.

Berita Terbaru

Perjuangkan Kesejahteraan Buruh dan Petani, Dani Eko Wiyono Siap Maju Calon Bupati Sleman Melalui Jalur Independen

Mata Indonesia, Sleman - Alumni aktivis 98 sekaligus aktivis yang selalu menyuarakan aspirasi buruh/pekerja Daerah Istimewa Yogyakarta, Dani Eko Wiyono ST. MT ini bertekad maju bakal calon bupati Sleman dalam Pilkada Sleman nanti. Dani menilai, hingga saat ini, mayoritas kehidupan buruh masih sangat jauh dari kata sejahtera. Buruh masih dianggap hanya sebagai tulang punggung ekonomi bangsa tanpa diperjuangkan nasib hidupnya.
- Advertisement -

Baca berita yang ini