Bima Arya: Awal Tahun 2021 Jadi Puncak Covid-19 di Kota Bogor

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Tren penularan virus corona di Kota Bogor makin mengkhawatirkan. Dimana sebelumnya kota hujan ini ditetapkan sebagai zona merah.

“Trennya belum melandai, tingkat penularannya makin cepat. Kalau orang bilang bersiap gelombang kedua ya, kalau menurut kami gelombang satu pun belum selesai masih menuju puncak begitu,” kata Bima, Senin 7 September 2020.

Menurut Bima, berdasarkan penghitungan dari seorang pakar epidemiologi, puncak corona bahkan diprediksi awal tahun 2021. Dia tak menyebut siapa pakar epidemiologi yang dimaksud. Bima juga tak menyebut indikator penghitungan puncak corona di Bogor.

“Pakar epidemiologi beberapa kali juga merevisi, ya, sempat dibilang puncaknya Agustus atau September, tapi kemudian ada kemungkinan awal tahun gitu,” katanya.

Menurutnya, semua itu tidak bisa diprediksi dan mereka bergerak secara dinamis. Untuk itu dirinya berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk.

Lebih lanjut Bima Arya juga mengatakan kondisi corona terparah berada di wilayah Bogor Barat. Di sana, warga memiliki mobilitas bekerja di seputar Jakarta. Faktor lainnya adalah tingginya aktivitas masyarakat

“Yang kedua aktivitas sosial warga yang masih kencang. Makanya kemarin saya turun ke 22 RW merah itu konsolidasi. Unit pantau, unit lacaknya harus bergerak cepat selalu,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini