Penuh Konflik, Ini Sederet Film Tentang Korut Vs Korsel

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tepat pada 15 Agustus 1948, garis paralel 38 derajat ditetapkan sebagai pemisah antara Korea Utara dan Korea Selatan. Garis paralel lingkar utara ini adalah sebuah lingkaran lintang imajiner yang berada pada lintang 38 derajat sebelah utara garis khatulistiwa bumi.

Memang bukan hal asing lagi jika hubungan antara Korea Selatan dengan Korea Utara selalu memanas. Bahkan pihak Korea Utara diketahui telah memutuskan hubungan dengan saudaranya di area Selatan ini.

Bahkan sangking epiknya konflik antara Korut vs Korsel ini, berhasil mengundang gairah para sutradara untuk menjadikannya tema sebuah film ataupun series.

Apa saja ya film yang bertemakan tentang Korut vs Korsel ini? Yuk simak!

1. The Front Line (2011)

The Front Line

The Front Line merupakan film garapan sutradara Hun Jang yang naskahnya ditulis oleh Sang Yeon Park. Film ini berlatarkan tahun 1950an dan mengisahkan tentang perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Seorang prajurit Korea Selatan, Kang Eun Pyo (Shin Hya Kyun) dikirim ke daerah perbatasan di Bukit Aerok untuk menyelidiki mata-mata Korea Utara. Namun, penugasan tersebut masih ada kaitannya dengan kematian misterius seorang petinggi militer Korea Selatan.

2. Into the Fire (2010)

Into the Fire

Film yang dibintangi Seung-Hyun, aktor sekaligus anggota dari boyband Big Bang ini memiliki cerita yang tak kalah menarik mengenai perang antara Korut dan Korsel.

Dalam film ini, Seung-Hyun berperan sebagai Jang-Beum, tentara pelajar yang ditunjuk untuk memimpin 71 tentara pelajar lainnya. Ia digambarkan sebagai sosok yang lembut dan bijak, namun ia dituntut untuk lebih tegas mengatur pasukannya.

3. Northern Limit Line (2015)

Northern Limit Line

Film ini mengambil sudut pandang beberapa prajurit muda yang bertempur dan tewas dalam pertempuran Yeonpyeong, pada 29 Juni 2002, ketika kapal patroli Korea Selatan, ditembaki dua kapal Korea Utara yang memasuki zona perbatasan bernama Northern Limit Line.

Diketahui, pada 2002, Korea Selatan dan Korea Utara memang kembali berseteru. Perjanjian gencatan senjata yang disepakati 49 tahun lalu kembali merenggang.

Maka dari itu, film Northern Limit Line dibuat berdasarkan kisah nyata ketika terjadi peristiwa ‘Second Battle of Yeonpyeong”.

4. Silmido (2003)

Silmido

Film Silmido diketahui telah mengungkap banyak sejarah kelam pemerintahan Korea Selatan khususnya dalam hal pertahanan. Film ini berlatarkan tahun 1968, dimana 124 komando Korea Utara dikirim untuk membunuh presiden Korea Selatan, Park Chung Hee.

Film ini merupakan film pertama Korea Selatan yang sukses menembus 10 juta penonton. Silmido berhasil diterima baik oleh masyarakat.

Film ini di sutradarai Kang Woo Suk dan berhasil meraih penghargaan, salah satunya Baeksang Art Award (Grand Prize For Film)

5. Tae Guk Gi (2004)

Tae Guk Gi

Tae Guk Gi di sutradarai oleh Kang Je Gyu dan berlatarkan waktu perang yang akhirnya memisahkan kedua negara tersebut. Cerita ini semakin menarik ketika dua prajurit Jin Tae (Jang Dong Gun) dan Jin Seok (Won Bin) yang harus terpisah karena perang itu.

Tae Guk Gi dianggap sukses menggambarkan realita yang terjadi pada masa tersebut. Gak cuma itu, film ini juga berhasil meraih predikat terbaik dari Baeksang Art Award dan memenangkan kategori yang sama di ajang Asia Pacific Film Festival.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini