Lagi Heboh! Oknum ASN Jadi Pelakor, Curhatan Istri Sah Bikin Netizen Ngelus Dada

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jagat maya tengah dihebohkan oleh curhatan seorang perempuan dengan akun Ulies Chan.

Perempuan tersebut mengaku dirinya telah diselingkuhi oleh sang suami. Suaminya diduga berselingkuh dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Tak main-main, Ulies Chan bahkan membeberkan sederet bukti perselingkuhan sang suami dengan oknum ASN itu. Ada bukti berupa isi chat atau percakapan hingga foto mesra sang suami dengan si pelakor.

“9 tahun usia pernikahan kami, kami selalu terlihat Harmonis tanpa sebuah cela.. Meski sesekali kerikil datang di kehidupan kami,” tulis Ulies Chan, dikutip Senin, 1 Juni 2020.

“Sekarang ketika cinta harus diuji kembali, bohong kalau kali ini aku bilang baik2 saja, karena ternyata orang yg paling ku percaya pun telah mulai berpaling dariku. Seorang gadis PNS yang pernah jadi duri dalam rumahtangga kami, kini hadir lagi,” lanjutnya.

Ulies menceritakan jika perselingkuhan suaminya dengan si pelakor mulai terungkap pada bulan Ramadan lalu. Berawal dari dirinya secara tak sengaja membaca chat sang suami di WhatsApp.

Curhatan Ulies Chan ini pun langsung mencuri perhatian netizen. Netizen pun ramai-ramai mengecam tindakan si oknum ASN yang diduga menjadi pelakor. Mereka juga memberi dukungan pada Ulies Chan.

“Pelakornya gak cantik pdhl mungkn dah perawatan mahal2…cantikan istri sah nya mski gak smpt merawat diri dan sibuk ngrus rumah tangga..mnding relakan aja mbaaa buat si pelakor… masih bnyk laki laki yang pantas buat anda mba,” tulis @sheshi_ramadarius.

“Semangat mba @ulies_chan, sakit hati akan terbayar lunas, tinggal nikmatin sambil duduk manis, biar netizen yg ambil alih?,” komentar @cereliafebri.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini