Stres Naik Pesawat, Seorang Jemaah Haji Akhirnya Batal Berangkat ke Makkah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Sedihnya, seorang jemaah calon haji asal Kabupaten Labuhanratu, Sumatera Utara, Nurlela Sari Rambe (56) gagal berangkat ke Makkah karena dievakuasi ke Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang.

Humas Haji Embarkasi Medan HM Yunus ketika dikonfirmasi menyebutkan, jemaah haji perempuan yang tergabung pada Kloter 05 Embarkasi Medan itu sakit sebelum Take Off, karena belum pernah naik pesawat dan kemungkinan stres.

“Padahal jemaah haji Nurlela sudah sempat duduk di dalam pesawat,” kata Yunus, Medan, Kamis 16 Juni 2022.

Jemaah haji dengan Manifes 028, Porsi 0200127086 dan Paspor C6769081 akhirnya tidak jadi ke Tanah Suci karena harus dirujuk ke rumah sakit.

“Jadi dibawa ke Rumah Sakit Medistra Lubuk Pakam, saat ini sudah mulai membaik,” katanya.

Yunus menambahkan, mengenai jemaah calon haji yang sakit dan gagal berangkat ini, masih menunggu penjelasan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Sebelumnya, Bupati Labuhanbatu Erik Adtrada Ritonga di Asrama Haji Medan, Rabu 15 Juni 2022, melepas keberangkatan 390 jemaah calon haji yang tergabung pada Kloter 5 Embarkasi Medan berangkat ke tanah suci Mekkah.

Dari jumlah 390 JCH Kloter 5 Embarkasi Medan terdiri dari 216 orang dari Kabupaten Labuhanbatu, 151 orang dari Kota Medan, 17 orang dari Kabupaten Dairi,dan 6 orang petugas haji dari daerah Kota Medan dan petugas haji dari Pusat.

Data yang diperoleh, rombongan Embarkasi Medan yang akan diberangkatkan terdiri dari 3.777 orang haji regular, 20 orang PPIH kloter, 20 orang petugas kesehatan, 5 orang pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dan 20 orang petugas haji daerah (KDH).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Kota hingga Pelosok: Misi Kesehatan Berkualitas melalui CKG

Oleh : Ricky RinaldiPemerataan layanan kesehatan menjadi fokus penting pemerintah dalammemperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengah upaya memperluasakses layanan hingga ke wilayah terpencil dan pelosok, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir sebagai langkah strategis untuk memastikan masyarakat dapatmemperoleh pemeriksaan kesehatan secara mudah, gratis, dan berkualitas. Kehadiran program ini tidak hanya memperluas jangkauan layanan kesehatan, tetapijuga mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjagakesehatan sejak dini demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidupmasyarakat. Tanpa kondisi kesehatan yang baik, produktivitas masyarakat akanmenurun dan pembangunan sumber daya manusia sulit berjalan optimal. Oleh karena itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap wargamemiliki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai dan terjangkau.Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan kesehatan harusmenjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata. Pelayanan kesehatan tidakboleh hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara masyarakat di daerahterpencil menghadapi keterbatasan akses. Dalam kerangka tersebut, CKG menjadibagian dari upaya menghadirkan negara secara nyata dalam pelayanan kesehatanmasyarakat.Program CKG dirancang untuk memperkuat pendekatan preventif dalam sistemkesehatan nasional. Selama ini, masyarakat sering kali baru memeriksakan kondisikesehatan ketika penyakit sudah berkembang lebih serius. Melalui pemeriksaankesehatan gratis, masyarakat didorong untuk lebih dini mengenali kondisi tubuh dan melakukan langkah pencegahan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa penguatan layanankesehatan primer menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan nasional. Pemeriksaan kesehatan secara berkala memungkinkan deteksi dini terhadapberbagai penyakit, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Pendekatan ini juga membantu mengurangi beban pembiayaan kesehatan dalamjangka panjang.Pelaksanaan CKG tidak hanya difokuskan di pusat kota, tetapi juga diarahkanmenjangkau wilayah pelosok. Pemerintah memperkuat koordinasi dengan fasilitaskesehatan daerah agar layanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Kehadiran tenaga kesehatan di lapangan menjadi faktor penting dalam memastikanbahwa program berjalan efektif hingga ke tingkat komunitas.Bagi masyarakat di daerah terpencil, akses terhadap layanan kesehatan sering kali terkendala oleh jarak, keterbatasan fasilitas, dan minimnya tenaga medis....
- Advertisement -

Baca berita yang ini