Jemaah Haji Wajib Tahu, 4 Penyakit Ini Kerap Menyerang di Tanah Suci

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Melakukan ibadah haji atau umrah ke tanah suci tak hanya membutuhkan kesiapan dana, namun perlu diimbangi dengan kondisi fisik yang prima.

Nah, bila kondisi fisik tak mendukung, maka penyakit mudah menyerang, meskipun tengah menjalankan ibadah haji.

Untuk jemaah haji, khususnya dari Indonesia, wajib tahu sejumlah penyakit yang sering menjadi ancaman saat berada di Tanah Suci. Berikut selengkapnya:

1. Kolera

Kolera menjadi salah satu penyakit yang paling diwaspadai saat pergi berhaji. Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang ada di dalam makanan dan minuman yang kurang bersih. Beberapa gejalanya adalah buang air besar encer, diare, mual, maupun muntah. Gejala ini bisa muncul pada 8–27 jam setelah terpapar bakteri penyebab kolera.

Meski kelihatan sepele, gejala kolera tetaplah dapat merenggut nyawa. Ini karena diare dan muntah-muntah akibat kolera dapat menguras cairan dan ion tubuh, sehingga tubuh mengalami kekeringan hingga akhirnya berhenti berfungsi.

2. Heatstroke

Cuaca di Tanah Suci saat ini mencapai 42-50 derajat Celcius. Terpapar panas dengan suhu tersebut, apalagi secara berkelanjutan, dapat menyebabkan kejadian heatstroke.

Heatstroke adalah suatu kelainan pada tubuh yang disebabkan oleh paparan suhu panas yang tinggi. Penyakit ini (heatstroke) memang sering terjadi saat musim haji.

Gejala heatstroke adalah demam di atas 39 derajat Celcius, denyut nadi cepat, sulit bernapas, tekanan darah meningkat atau menurun, dan gangguan kesadaran yang berujung koma. Jika tidak cepat ditangani, heastroke bisa berakibat fatal dan terjadi serangkaian komplikasi mematikan.

3. Influenza

Penyakit ini biasa dikenal dengan batuk pilek dan menyerang saluran pernapasan. Influenza bersifat akut dan gampang menular. Penyakit ini dapat menular melalui udara dan benda lain yang mengandung virus tersebut. Gejalanya adalah demam, batuk, pilek, nyeri kepala, badan lemas, pegal, dan sakit tenggorokan.

Jemaah haji berisiko tinggi mengalami penyakit influenza, apalagi jika mereka memiliki kekebalan tubuh yang rendah. Risikonya akan semakin tinggi, apabila mereka memiliki penyakit kronis seperti diabetes, infeksi paru kronis, dan penyakit jantung. Lalu, lansia, pasien transplantasi organ, serta pasien dengan kekebalan tubuh rendah seperti kanker.

4. Meningitis

Salah satu syarat untuk bisa mengikuti ibadah haji adalah sudah divaksin meningitis. Hal ini diminta secara khusus oleh pemerintah Arab Saudi setiap musim haji bagi calon haji dari seluruh dunia.

Lokasi ibadah haji menjadi tempat pertemuan orang-orang dari berbagai negara di dunia, sehingga menjadi tempat yang mudah untuk penularan penyakit meningitis. Peyakit ini menginfeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang. Gejala awalnya adalah mual, muntah, ruam di kulit, panas mendadak, dan nyeri di kepala.

Untuk itu, para jemaah haji dianjurkan untuk istirahat yang cukup, hindari asap rokok, jaga jarak dengan orang yang terinfeksi, cuci tangan tiap kali beraktivitas, sebisa mungkin jangan berbagi makanan atau barang pribadi, gunakan masker dan pilih makanan yang telah dipasteurisasi.

Mengetahui adanya ancaman penyakit di atas, para calon jemaah haji sebaiknya selalu memperhatikan kondisi kesehatan dengan saksama. Jangan biarkan penyakit mengganggu ibadah yang Anda lakukan.

Jangan ragu untuk segera bergerak ke pelayanan kesehatan milik Indonesia yang ada di Tanah Suci jika merasa kondisi fisiknya kurang baik. (Krisantus de Rosari Binsasi)

Berita Terbaru

Taklimat Presiden Tegaskan Diplomasi Energi, Pemerintah Jaga Kedaulatan Pangan dan Stabilitas Harga BBM

Oleh: Arya Satrya WibisonoDi tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, pemerintah terus mempertegas arahkebijakan nasional untuk memastikan ketahanan energi dan pangan tetap terjaga. Salah satu buktikonkret dari ketahanan tersebut tercermin pada kebijakan pemerintah yang tetap menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi hargaenergi dunia. Langkah ini tidak hanya menunjukkan kapasitas negara dalam mengelola sektorenergi secara efektif, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam melindungi daya belimasyarakat serta menjaga stabilitas sektor pangan yang sangat bergantung pada distribusi danbiaya logistik. Dalam konteks ini, kebijakan pengendalian harga BBM menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk meredam dampak krisis global sekaligus memperkuatfondasi kemandirian nasional.Dalam arahannya, Presiden menggarisbawahi bahwa pangan, energi, dan air merupakan tigapilar utama yang menentukan keselamatan suatu bangsa. Pandangan ini, sebagaimanadisampaikannya, telah lama diyakini dan diperjuangkan, bahkan sejalan dengan proyeksi global yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kerangka Sustainable Development Goals. Dengan demikian, langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan di ketiga sektor tersebuttidak hanya berbasis pada kebutuhan domestik, tetapi juga merujuk pada agenda pembangunanglobal yang telah mengantisipasi potensi krisis multidimensi.Taklimat yang disampaikan langsung kepada para menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselonI menjadi momentum penting dalam menyatukan persepsi seluruh elemen pemerintahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang selaras, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sektor energi, pemerintah menunjukkan langkah konkret melalui penguatan diplomasi dengannegara-negara sahabat. Presiden mengindikasikan bahwa kunjungan luar negeri yang dilakukannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi untukmengamankan pasokan energi nasional, khususnya minyak. Dalam situasi geopolitik yang penuhketidakpastian, pendekatan diplomasi aktif dinilai menjadi instrumen penting untuk menjagastabilitas energi dalam negeri.Diplomasi energi ini mencerminkan kesadaran pemerintah bahwa ketahanan energi tidak dapatsepenuhnya bergantung pada sumber daya domestik. Dibutuhkan jejaring kerja samainternasional yang kuat untuk memastikan keberlanjutan pasokan, sekaligus membuka peluanginvestasi dan transfer teknologi di sektor energi. Kunjungan ke berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta energiglobal.Di tengah gejolak harga energi dunia yang fluktuatif, pemerintah juga dinilai berhasil menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kebijakan ini mencerminkankeberpihakan pada daya beli masyarakat sekaligus menunjukkan kapasitas negara dalammeredam dampak langsung dari tekanan eksternal. Stabilitas harga BBM menjadi indikatorpenting bahwa strategi pengelolaan energi nasional berjalan efektif di tengah tekanan global yang tidak ringan.Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kombinasi kebijakan fiskal, penguatan subsidi yang tepat sasaran, serta hasil dari diplomasi energi yang memastikan pasokan tetap aman. Pemerintahsecara tidak langsung menunjukkan bahwa kendali terhadap sektor energi mampu dijaga denganbaik, sehingga gejolak global tidak serta-merta diteruskan ke masyarakat. Namun demikian, pemerintah tidak mengabaikan penguatan kapasitas dalam negeri. Upayamenuju swasembada energi terus didorong melalui berbagai program strategis, termasukoptimalisasi sumber daya alam dan pengembangan energi terbarukan. Langkah ini menunjukkanbahwa diplomasi internasional berjalan beriringan dengan penguatan fondasi domestik, sehinggaIndonesia memiliki ketahanan yang lebih kokoh dalam jangka panjang.Di sektor pangan, pemerintah juga menempatkan swasembada sebagai prioritas utama. Presidenmengisyaratkan bahwa upaya ini telah lama menjadi bagian dari gagasan besar yang kinidiwujudkan melalui program-program konkret. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan denganketersediaan produksi, tetapi juga distribusi, aksesibilitas, serta stabilitas harga yang harus dijagasecara berkelanjutan.Sementara itu, sektor air sebagai salah satu pilar penting dinilai memiliki potensi besar di Indonesia. Pemerintah melihat bahwa secara umum ketersediaan air masih relatif mencukupi, meskipun terdapat tantangan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia timur. Permasalahanutama lebih banyak terletak pada aspek pengelolaan dan kerusakan lingkungan, sepertideforestasi yang berdampak pada berkurangnya daya serap air.Dalam perspektif ini, pemerintah menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungansebagai bagian integral dari strategi ketahanan nasional. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa potensi yang dimiliki Indonesia dapatdimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dengan pendekatan yang tepat, tantangan terkait ketersediaan air diyakini dapat diatasi.Lebih jauh, taklimat Presiden juga menjadi ruang untuk menyampaikan optimisme terhadapmasa depan Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa di tengah berbagai krisis global, Indonesia justru memiliki peluang untuk tampil sebagai negara yang relatif stabil dan tangguh. Keyakinanini didasarkan pada kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik yang strategis, serta kebijakanyang diarahkan pada penguatan kemandirian nasional.Pendekatan yang mengombinasikan penguatan domestik dan diplomasi internasionalmenunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersikap reaktif terhadap krisis, tetapi juga proaktifdalam membangun ketahanan jangka panjang. Diplomasi dengan negara sahabat menjadijembatan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global, sekaligus memastikan kebutuhannasional tetap terpenuhi.*) Analis Diplomasi Energi dan Pembangunan Berkelanjutan
- Advertisement -

Baca berita yang ini