Dehidrasi Saat Menjalani Puasa? 5 Makanan Ini Bisa Membantu

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dehidrasi saat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan terjadi karena kurangnya asupan cairan dalam tubuh. Selain minum air putih, asupan cairan juga bisa diperoleh dari konsumsi makanan berupa buah-buahan dan sayuran yang memiliki kandungan air yang tinggi.

Para ahli merekomendasikan asupan cairan sebanyak 8 gelas per hari atau 1,8 liter. Maka, 5 buah ini dinilai bisa memiliki asupan cairan yang cukup sehingga bisa mencegah dehidrasi.

Pertama, yaitu semangka. Buah ini mengandung 92 persen air sehingga membantu supaya cepat kenyang. Kombinasi air dan serat bisa sama halnya dengan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak.

Kedua, yaitu stroberi. 91 persen berat stroberi berasal dari air maka dengan memakannya bisa memberikan kontribusi pada asupan air bagi tubuh. Menurut Healthline, serat dan antioksidan yang ada pada stroberi bisa menangkal penyakit.

Maka dianjurkan untuk memkannya secara teratur untuk melindungi dari penyakit jantung, diabetes, Alzheimer dan berbagai jenis kanker.

Ketiga, yaitu buah persik karena mengandung 90 persen air. Tidak hanya itu, vitamin A, vitamin C dan vitamin B serta kalium juga terdapat dalam buah ini. Kulitnya pun bisa menangkal penyakit seperti asam klorogenat ke dalam makanan.

Keempat, buah jeruk juga mengandung cairan yang bermanfaat untuk kesehatan. Hampir setengah cangkir (118 ml) air dan serat ada dalam buah ini. Vitamin C dan kalium juga bisa meningkatkan fungsi kekebalan dan kesehatan jantung.

Kelima, yaitu mentimun. Makanan sehat ini dinilai bisa mencegah dehidrasi karena hampir seluruhnya mengandung air. Mentimun termasuk sayuran yang rendah kalori karena hanya ada 8 kalori dalam setengah cangkir (52 ml) porsi, dan kandungan airnya membuat sangat menyegarkan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini