Busui Merapat, Ini Waktu yang Tepat Menyusui saat Puasa

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Meski sedang puasa, ibu menyusui (busui) tetap mengeluarkan ASI seperti saat tidak puasa. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk menyusui di bulan Ramadan?

Hal paling penting adalah, busui tidak perlu cemas, penurunan asupan kalori yang masuk ke tubuh selama puasa tidak akan mengakibatkan perbedaan nyata pada banyaknya ASI yang dibuat.

Sementara itu, dari sisi kualitas nutrisi untuk bayi, memang benar bahwa terjadi penurunan pada kadar mineral dan vitamin, seperti magnesium, kalium, dan seng pada ASI. Meski begitu, kondisi ini tidak akan menimbulkan dampak besar pada Si Kecil yang sedang menyusu.

Salah satu cara menyiasati produksi ASI ketika ibu menyusui puasa adalah memilih waktu memompa ASI yang pas. Jadwal menyusui sebenarnya tidak perlu berubah meski ibu sedang berpuasa. Hal ini memang dibutuhkan supaya tubuh ibu tetap mendapatkan sinyal untuk terus menyediakan ASI untuk Si Kecil.

Namun, ibu menyusui yang berpuasa juga perlu waspada akan gejala dehidrasi yang rentan terjadi. Gejalanya termasuk pusing, volume urine yang berkurang dengan warna kuning yang cenderung lebih gelap.

Selain itu, ibu juga perlu memperhatikan tanda Si Kecil kurang mendapatkan asupan ASI. Misalnya, bayi mengalami penurunan berat badan, jumlah popok yang basah berkurang, dan tidak merasa kenyang meski menyusu dalam waktu yang lama.

Lalu, kapan waktu yang tepat bagi ibu menyusui untuk menampung ASI atau pompa ketika sedang berpuasa? Ternyata, jadwalnya sebaiknya sama dengan waktu pompa sebelum puasa. Menjaga jadwal pompa tetap teratur menjadi hal yang penting dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan produksi ASI.

Selain itu, ibu menyusui juga bisa mengatur waktu pemberian ASI pada bayi setiap 2–3 jam sekali untuk satu sesi memompa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini