World Bank Sebut Dunia Sedang Menuju Resesi Global

Baca Juga

MATA INDONESIA,WASHINGTON – Dunia menuju resesi global akibat seluruh bank sentral menaikkan suku bunga secara bersamaan untuk memerangi inflasi.

Tiga ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat, Cina, dan kawasan Euro telang mengalami perlambatan ekonomi yang tajam, bahkan pukulan ekonomi tersebut dapat mendorong mereka ke dalam resesi.

Ekonomi dunia saat ini sedang dalam perlambatan tertajam menyusul pemulihan pasca resesi sejak tahun 1970. Saat ini, kepercayaan konsumen telah menurun lebih tajam daripada menjelang resesi global sebelumnya.

Presiden Bank Dunia, David Malpass, mengatakan “Pertumbuhan global melambat tajam,dengan perlambatan lebih lanjut kemungkinan karena lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi,” dilansir dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa dirinya khawatir tren ini akan terus bertahan, dengan konsekuensinya akan menghancurkan negara berkembang dan ekonomi berkembang.

Kenaikan suku bunga yang sedang berlangsung secara global kemungkinan akan berlanjut hingga tahun depan, namun mungkin tidak cukup untuk membawa inflasi kembali ke level saat pandemi berlangsung.

Untuk mendorong inflasi lebih rendah, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dengan tambahan 2 poin persentase. Namun kenaikan sebesar itu bersama dengan tekanan keuangan akan memperlambat pertumbuhan produk domestik bruto global menjadi 0,5 persen pada tahun 2023.

Malpass mengatakan pembuat kebijakan harus mengalihkan fokus mereka dari mengurangi konsumsi ke meningkatkan produksi. Termasuk juga upaya untuk menghasilkan investasi tambahan dan peningkatan produktivitas.

Resesi sebelumnya menunjukkan risiko membiarkan inflasi tetap tinggi untuk waktu yang lama.Sementara, dengan hal tersebut pertumbuhan ekonomi menjadi lemah. Resesi tahun 1982 memicu lebih dari 40 krisis utang dan mengantarkan satu dekade pertumbuhan yang hilang di banyak negara berkembang.

Studi dari World Bank menyarankan agar bank sentral dapat memerangi inflasi tanpa menyentuh resesi global dengan mengomunikasikan kebijakan dengan jelas. Pembuat kebijakan juga harus menerapkan rencana fiskan jangka menengah yang kredibel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Reformasi UU P2SK Menjaga Stabilitas sekaligus Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

*) Oleh: Dinda ParamitaPengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan(P2SK) menjadi undang-undang oleh DPR RI dalam Rapat Paripurna ke-20 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 merupakan langkah strategis yang patutdiapresiasi. Di tengah dinamika ekonomi global yang sarat ketidakpastian, Indonesia membutuhkan fondasi sektor keuangan yang tidak hanya kuat dalam menjagastabilitas, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonominasional. Reformasi regulasi ini menunjukkan komitmen pemerintah dan DPR dalammemastikan sektor keuangan nasional tetap relevan terhadap perkembangan zaman sekaligus responsif terhadap berbagai tantangan baru. Kehadiran UU P2SK yang diperbarui menjadi bukti bahwa agenda reformasi ekonomi terus berjalan secaraberkelanjutan.Dalam konteks pembangunan nasional, sektor keuangan memiliki peran sentral sebagai penghubung antara sumber daya ekonomi dan aktivitas produktif masyarakat. Oleh karena itu, penguatan regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar fungsiintermediasi keuangan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Stabilitas sektorkeuangan yang terjaga akan menciptakan kepercayaan investor, memperluas aksespembiayaan, serta mempercepat perputaran modal di berbagai sektor strategis. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan memberikan kontribusi nyata terhadap penciptaanlapangan kerja, peningkatan investasi, dan percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.Selanjutnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini