Waspada, BMKG Prediksi Beberapa Wilayah Terdampak Cuaca Esktrem hingga Akhir Pekan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi beberapa wilayah di Indonesia mengalami cuaca ekstrem yang terjadi sejak Kamis 18 Februari 2021 hingga Sabtu 20 Februari 2021.

“Peringatan dini cuaca untuk 18 hingga 20 Februari 2021,” kata BMKG, Kamis 18 Februari 2021.

BMKG memprediksi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang terjadi sejak 18 Februari 2021. Kondisi ini bisa terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung.

Kemudian, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Selain itu, ada Sulaswesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara. Lalu Maluku Utara, Papua, dan Papua barat.

Kondisi hujan lebat dan petir juga diperkirakan bakal terjadi pada Jumat 19 Februari 2021 dan beberapa wilayah diperkirakan akan terdampak seperti Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Maluku.

Sementara hujan lebat dan angin kencang diprediksi terjadi di Jambi, Banten, DKI Jakarta, NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua.

Terakhir, pada Sabtu 20 Februari 2021 hujan lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi terjadi di Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.

itu, hujan dengan intensitas lebih rendah namun disertai petir dan angin kencang diperkirakan mengguyur Aceh, Banten, DKI Jakarta, NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, dan Papua Barat.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini