Urung Jual Iron Dome ke UEA, Israel Takut Rahasianya Terbongkar

Baca Juga

MATA INDONESIA, TEL AVIV – Israel urung menjual Iron Dome dan Sistem Senjata Selempang David ke Uni Emirates Arab (UEA). Demikian laporan analis militer Israel, Hayom dan Maariv.

Perlu diketahui bahwa Iron Dome dapat membawa bahan peledak seberat 24 pon dan dapat mencegat proyektil yang datang dari jarak empat hingga 70 kilometer. Itu dapat menghitung apakah roket akan mendarat di area terbuka atau pusat-pusat sipil, dan dengan demikian memilih apakah akan mencegatnya.

Dirancang untuk menembak jatuh roket jarak pendek, Iron Dome merupakan komponen integral dari sistem pertahanan berlapis Israel, dan telah digunakan dalam beberapa perang dan puluhan putaran konflik antara Israel dan kelompok teror di Jalur Gaza.

Analis militer Israel, Alon Ben David mengatakan bahwa badan keamanan Israel menolak potensi untuk menjual teknologi yang dikembangkan kepada mitra barunya, merujuk pada negara-negara Arab yang telah menandatangani Kesepakatan Abraham.

Sementara itu, Yoav Limor mengatakan kepada Israel Hayom bahwa Israel takut menjual teknologi ini ke UEA. Pasalnya, dengan begitu rahasia Israel dapat diteruskan ke negara pihak ketiga.

“Mossad, yang membuka jalan bagi normalisasi, telah memohon kepada badan keamanan untuk berhenti memandang negara-negara ini sebagai Arab,” ungkap Ben David, melansir Middle East Monitor, Minggu, 30 Januari 2022.

Menurut Ben David, Kementerian Pertahanan Israel telah mencabut keputusannya untuk tidak menjual sistem pertahanan ke UEA. “Mereka telah menjual teknologi siber tetapi menahan diri dari menjual sistem pertahanan udara,” sambungnya.

Ben David memperkirakan bahwa Israel kehilangan 4,5 miliar USD setelah menolak kesepakatan militer dengan UEA.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal. Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia. Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat. Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini