TWK Dituding Lemahkan KPK, Pakar: Itu Hanya Asumsi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tuduhan bahwa tes wawasan kebangsaan (TWK) bakal melemahkan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai hanya sebagai asumsi yang mengemuka karena tidak berdasarkan fakta. Pakar hukum pidana dari Universitas Al-Azhar Suparji Ahmad menilai bahwa sebenarnya KPK tetap kuat terutama dengan adanya revisi UU KPK yaitu UU No 19 tahun 2019.

Hal tersebut membawa perubahan positif yakni dengan hadirnya Dewan Pengawas KPK serta pegawainya yang berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN).

“Maka ada justifikasi terkait pelemahan KPK,” kata Suparji Ahmad di dalam People Talk Mata Indonesia TV, Sabtu 12 Juni 2021.

Ia juga menilai bahwa KPK akan tetap kuat dengan adanya dukungan dari sumber daya manusia (SDM) yang cukup banyak. Maka, diperlukan pembuktian melalui sebuah kinerja yang baik untuk membantah asumsi bahwa lembaga tersebut akan melemah akibat polemik TWK.

“Itu harus dibantah dengan kerja-kerja nyata, namun demikian KPK masih eksis dan masih bertaji dan ditunggu di masa yang akan datang,” kata Suparji.

Pernyataan ini tidak lepas dari gejolak yang terjadi di dalam internal KPK terutama saat 51 pegawai KPK diberhentikan karena tidak lulus tes wawasan kebangsaan. Bahkan, mereka belum menempuh jalur hukum dan memilih untuk berkoordinasi dengan Komnas HAM.

Suparji menilai manuver tersebut justru membuat kondisi semakin tidak kondusif.

“Ini semakin berisik, tidak produktif dalam konteks menyelesaikan persoalan,” kata Suparji.

Ia juga menilai bahwa keterlibatan Komnas HAM dalam polemik ini patut dipertanyakan karena sepatutnya sebuah lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini