Turki Ciptakan Masker ELektronik Pembunuh Virus Corona

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Semua negara di dunia terus berinovasi menciptakan sesuatu untuk mencegah penyebaran virus corona. Seperti yang dilakukan oleh ilmuan Turki menciptakan masker yang bisa mencegah keluar dan masuknya virus ke dalam tubuh.

Masker yang dirancang oleh dua orang akademisi dari Universitas Aksaray Tarık Yilmaz dan Emre Arslan. Masker ini menggunakan sinar ultraviolet dan medan listrik untuk menangkal mikroorganisme atau mikroba.

Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Dr Tarik Yilmaz mengatakan mereka berusaha memanfaatkan waktu dengan materi akademik dan kegiatan penelitian saat tinggal di rumah karena wabah Covid-19.

Dia menjelaskan kekurangan masker selama wabah telah menjadi masalah besar di seluruh dunia. “Di Eropa, beberapa negara melarang penjualan masker ke negara lain. Masalah ini bahkan akan berubah menjadi perang yang serius,” ujar Yilmaz.

Yilmaz melihat masalah tersebut sebagai sebuah peluang untuk menciptakan masker sendiri. Pada tahap awal dia mulai memikirkan masker sederhana dengan desain portabel dan mampu membersihkan sendiri.

Setelah memikirkan hal itu, Yilmaz mulai berpikir tentang bagaimana cara membunuh virus-virus. Pada tahap ini, dia berusaha menggunakan teknologi yang ada.

“Kita tahu bahwa sinar ultraviolet membunuh virus sejak awal 1900-an. Kondisi ini merupakan ide cemerlang bagi kami,” ujar Yilmaz.

Yilmaz mengatakan butuh waktu untuk merancang ultraviolet di dalam masker untuk membunuh virus.

“Kami menggunakan perak di medan listrik ini. Karena perak memiliki kemampuan untuk membunuh mikroba. Dengan menggabungkan kondisi seperti ini, kami mengembangkan filter baru.” Katanya.

Akademisi jurusan Teknik Elektro Dr. Emre Arslan mengungkapkan mereka telah mengerjakan proyek ini selama sekitar dua bulan dan pihaknya juga meneliti apa yang telah dilakukan ilmuwan di dunia tentang masalah ini.

Setelah mengamati semua karya ilmiah, Arslan mengatakan pihaknya menyatukan sisi baik dari berbagai proyek pembuatan masker elektronik.

Arslan mengatakan masker tersebut dapat berfungsi menggunakan energi dari powerbank selama 12 jam. “Kami mengajukan hak paten untuk proyek kami dan berharap selesai dalam waktu singkat,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini