Tingkat Kekerasan pada Anak di Provinsi Lampung Berstatus Darurat

Baca Juga

MATA INDONESIA, LAMPUNG – Provinsi Lampung disebut menjadi salah satu wilayah yang paling darurat kekerasan terhadap anak.

Hal ini disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) Arist Merdeka Sirait yang menyebut, Lampung menempati posisi ke-11 dari 34 provinsi dengan tingkat kekerasan pada anak yang tergolong tinggi.

“Tandanya provinsi ini cukup darurat untuk kasus yang terjadi pada anak-anak,”kata Arits di Bandarlampung, Jumat 27 Desember 2019.

Ia menjelaskan berdasarkan data akhir tahun KPA banyaknya kasus kekerasan anak yang terjadi di Provinsi Lampung meliputi eksploitasi anak dijadikan bahan pendapatan ekonomi dan kekerasan seksual.

Arits berkata, kasus kekerasan anak di Lampung masih terus terjadi dan sulit dihentikan, salah satunya yang terbaru adalah di Kabupaten Pesawaran.

Di daerah tersebut, kata Arits, pihanya mendapat laporan ada gadis berusia 14 tahun mengalami kekerasan seksual yang dilakukan 16 orang selama dua hari. Sementara ini 8 pelaku sudah ditangkap, sisanya diburu aparat.

“Pelaku tidak boleh lolos dan tidak ada ampun untuk kejahatan pada anak,” ujar Arits

Ia mengungkapkan bahwa kebanyakan pelaku kekerasan pada anak dilakukan orang terdekat bukan orang jauh, maka peran semua pihak sangat penting agar anak-anak dapat terlindungi dari kekerasan ini.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini