Tingkat Adiksi Digital Meningkat, PP TUNAS Jadi Solusi Pengendalian

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Pemerintah menghadirkan langkah strategis melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 sebagai respons terhadap meningkatnya tingkat adiksi digital pada anak dan remaja. Regulasi ini dinilai sebagai kebijakan progresif yang menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas utama dalam ekosistem digital yang semakin kompleks.

Pakar pendidikan, Najelaa Shihab, menyebut kehadiran PP TUNAS sebagai terobosan penting dalam merespons krisis global terkait dampak teknologi digital terhadap generasi muda. Menurutnya, penyusunan regulasi ini bukan hal mudah, terutama karena harus berhadapan dengan berbagai kepentingan, termasuk industri teknologi.

“Ini adalah capaian besar. Untuk pertama kalinya, kepentingan anak benar-benar menjadi dasar utama dalam regulasi digital,” ujarnya.

Najelaa menjelaskan bahwa dampak penggunaan teknologi digital, khususnya media sosial, kini telah menjadi isu global yang sejajar dengan krisis kemanusiaan dan lingkungan. Berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa penggunaan digital yang tidak terkendali berdampak signifikan terhadap perilaku serta kesehatan mental anak.

Namun demikian, ia menilai bahwa dibandingkan isu global lainnya, persoalan digital justru memiliki solusi yang lebih konkret melalui kebijakan yang tepat. “Isu digital ini bisa kita atasi dengan langkah nyata, salah satunya melalui perlindungan anak,” jelasnya.

Salah satu keunggulan utama PP TUNAS adalah kejelasan dalam mendefinisikan risiko digital secara komprehensif. Regulasi ini tidak hanya mencakup konten berbahaya atau penyalahgunaan data, tetapi juga secara tegas memasukkan adiksi digital sebagai risiko utama yang harus dikendalikan.

Menurut Najelaa, pengakuan terhadap adiksi sebagai risiko merupakan langkah maju yang jarang dilakukan oleh negara lain. “Adiksi ini kunci. Bukti ilmiah menunjukkan dampaknya setara dengan kecanduan lain seperti rokok atau alkohol, tetapi sering diabaikan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa dampak krisis digital tidak dirasakan secara merata. Anak-anak dari kelompok rentan, terutama di wilayah terpencil dan keluarga kurang mampu, justru menjadi pihak yang paling terdampak. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting dalam memastikan perlindungan anak berjalan efektif.

Dalam konteks pendidikan, Najelaa menegaskan bahwa literasi digital harus dibangun di atas fondasi kemampuan dasar seperti membaca, berpikir kritis, dan interaksi sosial. Pendekatan ini dinilai penting agar anak tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang kuat.

“Justru kreativitas dan kemampuan berpikir tumbuh dari pengalaman nyata. Setelah itu kuat, baru literasi digital bisa berkembang dengan baik,” ujarnya.

Keberhasilan implementasi PP TUNAS, lanjutnya, sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga masyarakat luas. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis bukti, regulasi ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mengendalikan adiksi digital sekaligus melindungi masa depan generasi muda Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Magang Nasional Perkuat Ketahanan SDM Menghadapi Ketidakpastian Global

Oleh: Fajar Nugraha Prasetyo )*Pemerintah terus memperkuat fondasi ketahanan sumber daya manusiasebagai respons atas dinamika global yang penuh ketidakpastian. Program Magang Nasional menjadi salah satu langkah strategis yang dijalankan untuk memastikan tenaga kerja Indonesia mampu bertahandan berkembang di tengah perubahan ekonomi dunia. Kebijakan inimenempatkan penguatan kualitas SDM sebagai prioritas utama dalammenghadapi tantangan global.Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, membahas arah pengembanganprogram magang dalam pertemuan strategis di Gedung SekretariatKabinet. Pembahasan tersebut menitikberatkan pada peningkatan kuotapeserta untuk periode 2026–2027 serta penguatan kualitas program. Pemerintah melihat pengembangan SDM harus dilakukan secarasistematis agar mampu menjawab kebutuhan industri yang terusberkembang.Program Magang Nasional menunjukkan capaian yang signifikanberdasarkan jumlah peserta yang telah terlibat. Data peserta mencapai100.000 orang pada periode 2025–2026 dengan jumlah pendaftar sekitar400.000 orang. Tingginya minat masyarakat mencerminkan kebutuhanbesar terhadap akses pengalaman kerja bagi lulusan baru.Teddy menekankan pentingnya peningkatan kualitas dalam program magang. Pemerintah tidak hanya berfokus pada jumlah peserta, tetapijuga pada hasil yang diperoleh setiap individu. Sistem magang dirancanguntuk memberikan pengalaman kerja langsung, pendampingan mentor, serta dukungan finansial yang layak.Program Magang Nasional memberikan manfaat nyata bagi pesertadalam membangun kesiapan kerja. Pengalaman langsung di lingkunganprofesional membantu peserta memahami dinamika industri secarapraktis. Pendampingan dari mentor memperkuat kemampuan teknis dan nonteknis yang dibutuhkan di dunia kerja.Pemerintah memastikan Program Magang Nasional terintegrasi denganekosistem pengembangan tenaga kerja. Integrasi tersebut dilakukanmelalui berbagai inisiatif peningkatan keterampilan yang mendukungkesiapan kerja. Pendekatan berkelanjutan ini memperkuat kualitas tenagakerja secara menyeluruh.Pengamat ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada, Tadjudin Nur Effendi, memberikan penilaian positif terhadap program ini. Penilaiantersebut menempatkan Program Magang Nasional sebagai solusi bagilulusan baru yang kesulitan memperoleh pekerjaan. Program ini dinilaimampu menjawab kebutuhan pengalaman kerja yang selama ini menjadikendala utama.Effendi melihat program magang sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Peserta memperoleh pengalaman praktissekaligus sertifikat yang meningkatkan daya saing. Nilai tambah tersebutmenjadi modal penting dalam menghadapi persaingan pasar tenaga kerja.Program Magang Nasional memberikan dampak jangka panjangmeskipun tidak semua peserta langsung direkrut perusahaan. Sertifikatdan pengalaman kerja menjadi bekal untuk melamar pekerjaan di tempatlain. Dampak tersebut memperluas peluang kerja bagi lulusan baru.Effendi mendorong peningkatan jumlah peserta dalam program magangke depan. Peningkatan jumlah peserta dinilai dapat memberikan dampaksignifikan terhadap penurunan pengangguran. Fleksibilitas bagiperusahaan tetap diperlukan agar penyerapan tenaga kerja berjalansesuai kebutuhan.Ketua Umum...
- Advertisement -

Baca berita yang ini