Tiba di Korea Selatan, Timnas U-23 Langsung Geber Latihan

Baca Juga

MATA INDONESIA, YEONGDEOK – Timnas Indonesia U-23 sudah tiba di Kota Yeongdeok, Korea Selatan untuk menjalani pemusatan latihan (TC). Skuat Garuda Muda langsung digeber latihan.

Timnas U-23 tiba di Bandara Icheon, Sabtu 16 April 2022 pagi hari waktu setempat. Setelah itu, Garuda Muda menuju Kota Yeongdeok yang memakan waktu 4 jam perjalanan untuk melakukan TC.

Sore harinya, timnas U-23 langsung menggelar latihan di Heemaji Football Field, Yeongdeok. Pelatih Shin Tae-yong langsung memimpin latihan tersebut.

“Para pemain berangkat dari Jakarta, Jumat (15/4) malam WIB, sampai Korsel pada pagi hari Sabtu (16/4), lalu perjalanan jauh dari Kota Icheon ke Yeongdok sekitar 4 jam, jadi latihan kali ini fokus Pemulihan. Besok baru fokus ke latihan sebenarnya,” ujarnya.

“Karena usai Liga, para pemain istirahat cukup lama, maka pekan ini fokus membuat fisik dasar para pemain. Pastinya nanti ada latihan seperti biasa selanjutnya,” katanya.

Rencananya, timnas U-23 akan melakoni dua laga uji coba melawan Pohang Steelers (23 April) dan Daejeon Hana Citizen (27 April).

“Jadi harusnya ada empat kali uji coba, namun karena proses visanya (para pemain) terlambat jadi, akhirnya hanya dua pertandingan,” ucapnya.

Timnas U-23 akan melakukan TC di Korea Selatan hingga 29 April jelang tmapil di SEA Games 2021 di Hanoi, Vietnam pada Mei mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini