Terkuak Modus Pencurian Baru di Terminal saat Momen Mudik Nataru

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menjelang Natal dan tahun baru banyak masyarakat yang mudik. Mulai dari bandara, stasiun, pelabuhan, hingga terminal pun dipadati pemudik. Salah satunya yang terlihat di terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Kapolsubsektor Terbus Kampung Rambutan Iptu Heru Siswanto, S.Pd., MM mengimbau masyarakat agar tidak tertipu modus pencurian baru di terminal.

Tentu banyak modus pencurian yang berkeliaran di sekitar terminal. Misalnya seperti musim hujan seperti sekarang ini, para pelaku pun memanfaatkan situasi yang ada dengan menjadi tukang ojek payung dadakan.

“Salah satunya modus di musim hujan ada sebagian warga atau anak-anak memanfaatkan situasi dengan ojek payung dadakan,” ujar Heru.

Selain itu, modus lainnya, seperti kuli panggul dadakan dan menyamar sebagai PO bus. Heru mengimbau agar tidak udah percaya denga orang-orang baru yang tidak dikenal, apalagi sifatnya dadakan.

Ia menegaskan bahwa semua karyawan di Terminal Kampung Rambutan memakai seragam dan mempunyai id card (kartu identitas). Jadi jika ada yang mendekat atau membantu membawakan barang tidak pakai seragam atau id card lebih baik lapor kepada petugas terminal.

Belum lama ini, Heru mengatakan bahwa ada kasus pencurian yang terjadi di Terminal Kampung Rambutan. Saat itu ada penumpang yang kebelet buang air kecil dan membawa banyak barang.

Penumpang tersebut bingung harus menitipkan barangnya kepada siapa. Ternyata penumpang tersebut sudah terdeteksi oleh pelaku dan berpura-pura akan pergi ke tujuan yang sama sehingga menawarkan diri untuk menjaga barang bawaan korban.

“Ketika orangnya keluar dari kamar mandi ternyata barangnya sudah raib,” ucapnya.

“Untuk mengantisipasi terjadinya modus-modus tersebut dengan mengadakan patroli secara kontinu dan pos pelayan juga tidak boleh kosong agar masyarakat bisa melapor jika terjadi sesuatu,” kata Heru. (Anita Rahim)

Berita Terbaru

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Oleh: Ethan Shabir Uttara *)Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu ekonomi kembali hadir dalamruang publik Indonesia. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awalkemerdekaan hingga era demokrasi modern saat ini, mahasiswa selalu menjadi bagianpenting dalam proses kontrol sosial terhadap kebijakan negara. Kritik, protes, dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi.Namun demikian, dalam isu ekonomi, terdapat satu tantangan yang sering muncul: kecenderungan melihat persoalan dari satu sisi tanpa mempertimbangkan gambaran yang lebih utuh. Padahal ekonomi merupakan bidang yang kompleks, dipengaruhi oleh banyakvariabel domestik maupun global, sehingga membutuhkan pembacaan yang lebihkomprehensif daripada sekadar melihat gejala-gejala yang tampak di permukaan.Belakangan ini sejumlah aksi demonstrasi mengangkat berbagai isu mulai dari kemiskinan, korupsi, program bantuan sosial, hingga berbagai program prioritas pemerintah. Aspirasitersebut tentu patut dihargai. Namun pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah apakahnarasi yang berkembang telah mencerminkan keseluruhan realitas yang sedang berlangsung?Dalam sebuah diskusi publik yang membahas hubungan antara gerakan mahasiswa dan kebijakan negara, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengingatkan bahwa demonstrasi mahasiswa adalah bagian yang wajar dalam demokrasiIndonesia. Namun ia juga menekankan pentingnya melihat seluruh aspek secara objektif agar penilaian terhadap kondisi bangsa tidak hanya didasarkan pada satu sudut pandang. Pemerintah, menurutnya, tidak menolak kritik, melainkan berupaya menghadirkan gambaranyang lebih lengkap kepada masyarakat. Dalam konteks ekonomi, pendekatan semacam ini sangat relevan. Sebagai contoh, isukemiskinan sering menjadi bahan kritik. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga sedang menjalankan berbagai program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakatrentan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, tidak hanya bertujuanmeningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomibaru di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pemasok pangan, dan pelaku usahakecil di daerah. Demikian pula dengan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumenpaling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui anggaran KIP Kuliah yang menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa. Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Namun yang perlu dicermati adalah apakahpemerintah menunjukkan kemauan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam kasusMBG misalnya, pemerintah melakukan moratorium penambahan dapur baru untuk fokuspada peningkatan kualitas pelaksanaan program dan efisiensi anggaran....
- Advertisement -

Baca berita yang ini