Tenaga Kesehatan di Jawa dan Bali Bakal Diprioritaskan untuk Disuntik Vaksin Sinovac

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-1,2 juta vaksin covid-19 yang telah tiba di Indonesia, bakal diprioritaskan untuk tenaga kesehatan di Jawa dan Bali. Hal itu disampaikan oleh Jubir vaksin, Siti Nadia Tarmizi.

“Tahap awal vaksin akan diberikan untuk seluruh komponen tenaga medis di Jawa-Bali dulu, mengingat jumlah kasus di daerah tersebut cukup tinggi,” katanya dalam diskusi virtual dengan tema ‘Setelah Vaksin Datang’, Sabtu 12 Desember 2020.

Nadia yang juga Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Ditjen P2P, menjelaskan, Kemenkes juga sudah menyiapkan secara teknis terkait pelaksanaan secara paralel. Pasalnya dibutuhkan 2-3 minggu untuk dapat dilakukan vaksinasi setelah mendapatkan persetujuan BPOM.

Dia juga menerangkan, Kemenkes juga sudah melakukan pemetaan daerah-daerah yang diprioritaskan melakukan vaksinasi.

“Vaksin masih ada di Bio Farma nantinya didistribusi ke kabupaten, kota bahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan,” katanya.

Efek Samping Vaksin Covid-19 

Tim Mikrobiologi Uji Klinis Vaksin dari Universitas Padjajaran, Sunaryati Sudigdoadi mengatakan, dari dua kali para relawan divaksinasi, belum ada yang menunjukkan gejala atau dampak negatif dari proses penyuntikan tersebut.

“Sejauh ini alhamdulillah, mengenai efek samping (red: vaksin) tidak ada efek yang serius, secara umum,” katanya.

Dia menjelaskan, timnya selalu melakukan pemeriksaan terhadap para relawan. Setiap saat, relawan selalu dipantau.

“Kalau ada gejala, kita lakukan pemeriksaan lagi. Kami melakukan tes pcr atau swab terhadap relawan, nanti di akhir Januari akan terlihat hasil evaluasi,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini