Tak Seperti Indonesia, Dua Negara Ini Meliburkan Sekolah Setiap Hari Guru

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTAIndonesia memperingati Hari Guru Nasional setiap 25 November. Banyak negara di dunia juga memiliki hari guru, tetapi beberapa negara bahkan menetapkannya sebagai hari libur. Negara mana sajakah itu?

Hari Guru Sedunia sudah diresmikan oleh UNESCO sejak tahun 1994, tujuannya untuk memusatkan perhatian pada kontribusi, prestasi guru, dan menyoroti keprihatinan terhadap dunia pendidikan. Akhirnya disepakatilah Hari Guru se-Dunia diperingati setiap 5 Oktober.

Alasannya, karena pada tanggal tersebut tahun 1966 konferensi khusus antar pemerintah mengadopsi rekomendasi UNESCO tentang Status Guru. Untuk pertama kalinya, rekomendasi itu mendefinisikan tanggung jawab dan menegaskan hak-hak guru secara universal.

Sementara Hari Guru Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 78 tahun 1994 yang ditandatangani Presiden Soeharto. Tanggal 25 November dipilih karena sebagai hari pertama Kongres Persatuan Guru Indonesia (PGI) ke-25 Tahun 1936.

Berikut negara-negara yang menetapkan hari guru sebagai libur nasional;

  1. Singapura
    Hari Guru di Singapura diperingati pada 1 September. Pada perayaan Hari Guru, sekolah-sekolah di Singapura mendapat libur. Namun, sehari sebelumnya para siswa melakukan berbagai acara untuk memperingati hari itu dan mereka hanya belajar selama setengah hari.

Umumnya, kegiatan yang mereka lakukan untuk menghibur para guru dan mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada guru. Siswa juga terbiasa memberikan hadiah dan bunga kepada guru mereka pada hari istimewa tersebut sebagai tanda hormat.

  1. Vietnam
    Hari guru di Vietnam dirayakan pada tanggal 20 November. Sama dengan Singapura, hari guru di Vietnam juga merupakan hari libur. Biasanya para siswa akan mengunjungi rumah guru-guru mereka, membawa bunga dan kartu ucapan untuk mengucapkan rasa hormat pada guru. (Annisaa Rahmah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini