Setelah Muncul, Kim Jong-un Tembaki Korea Selatan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sehari setelah kemunculan Kim Jong-un di hadapan publik, Korea Utara terlibat kontak tembak dengan pasukan penjaga Korea Selatan di Demilitarized Zone (DMZ), Minggu 3 Mei 2020.

Rentetan peluru dari Korea Utara itu menghantam pos penjagaan di Korea Selatan yang menurut Kepala Staf Gabungan Korsel melalui pernyataan, mendapat balasan dua kali tembakan.

Tembakan itu terjadi di pusat kota perbatasan Cheorwon sekitar pukul 7.41 waktu setempat, namun tidak dilaporkan terjadi kerusakan pada fasilitas Korea Selatan.

Menurut Yonhap, militer Korea Selatan telah mengumumkan peringatan atas serangan Korea Utara tersebut.

“Kami mengambil tindakan melalui komunikasi inter-Korean untuk menghindari insiden lanjutan. Kami juga telah siap siaga,” begitu pernyataan yang dikeluarkan Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.

3 KOMENTAR

  1. Kayaknya 2 negara ini susah dipersatukan…
    Contohlah Jerman Barat-Jerman Timur, pernah dipisahkan tembok Berlin, tapi sudah dirobohkan, dan sekarang BERSATU, menjadi negara maju dan kuat.
    Apalagi klo Korea bisa bersatu, mungkin lebih hebat ? #KomenPositif

    • Beda ideologi, beda tipe pemerintahan.
      Korea selatan Republik, sedangkan korea utara tau sendiri kan?
      Dan bukan tujuan juga mereka bersatu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini