Selangkah Lagi, Hendra dan Ahsan Cetak Sejarah Baru di All England

Baca Juga

MINEWS,JEPANG – Selangkah lagi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bakal mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Pasangan ganda bulu tangkis Indonesia ini berhasil melaju ke babak final All England 2019.

Lagu Indonesia Raya pun siap berkumandang di Arena Birmingham, Minggu 10 Maret 2019 malam nanti. Namun Hendra mengaku saat ini harus mengontrol kegembiraan sebab misi belum tuntas.

Hendra/Ahsan mengunci tempat di babak final usai mengalahkan pasangan Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Mereka menang dua gim 21-19, 21-11 dengan kondisi Hendra yang kurang bugar pada pertandingan Sabtu 9 Maret kemarin.

Pasangan ini pun mengaku bergembira dengan kemenangan itu. Apalagi, empat tahun belakangan, mereka tak mencapai final. Sejak 2015, mereka melaju paling jauh di ronde kedua. “Saya bersyukur bisa masuk final lagi, sudah cukup lama enggak masuk final (All England),” kata Ahsan seperti dikutip situs resmi turnamen.

“Pasti senang, tapi harus bisa kontrol. Sebab, pertandingan belum selesai,” kata Hendra menimpali.

Pada babak final, Hendra/Ahsan menghadapi ganda Malaysia, Aaron Chia/Soh Woo Yik. Laga itu sekaligus menjadi kesempatan Hendra/Ahsan membalaskan dendam Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang dikalahkan Aaron/Soh di semifinal. “Kami tidak menyangka bisa mencapai final di All England. Tak berpikir untuk mencari kemenangan, yang penting cara main,” kata Woo Yik.

“Ini All England pertama kami dan final pertama, Malaysia sudah lama tidak menjadi juara. Kami tak akan merayakannya dulu, masih ada babak final,” Aaron menimpali.

Malaysia meraih gelar juara All England kali terkahir pada 2014. Waktu itu, Lee Chong Wei menjadi juara tunggal putra.

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini