Sekolah Tatap Muka, Lebih Seru dan Tak Perlu Kuota

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan sekolah tatap muka sejak 30 Agustus 2021. Dengan begitu, para siswa dan siswi dari berbagai angkatan, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas sudah memulai kegiatan belajar di sekolah.

Tercatat sebanyak 610 sekolah di DKI Jakarta sudah melakukan sekolah tatap muka pasca status PPKM di wilayah Jakarta turun ke level III. Masing-masing sekolah juga sudah mempersiapkan diri untuk memfasilitasi para murid agar tetap aman selama melakukan kegiatan di sekolah.

Berdasarkan Surat Keputusan Dinas DKI Jakarta tentang Pendidikan Nomor 883 Tahun 2021, mencatat daftar sekolah yang menggelar sekolah tatap muka, salah satunya adalah SMKN 32 Tebet Dalam, Jakarta Selatan.

Sebanyak 126 siswa dan siswi sudah mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan tetap menjalankan protokol kesehatan ketat. Pihak sekolah juga menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat mencuci tangan plus sabun hingga ruang isolasi untuk para siswa dan siswi.

Selain menerapkan protokol kesehatan secara ketat, durasi belajar mengajar dipersingkat, yakni dari pukul 07.00 hingga 11.00 siang. Pergerakan siswa juga masih terbatas, meski demikian para siswa tetap antusias.

“Kalau belajar online, kadang sulit untuk memahami materi. Tidak bisa kenalan, belum lagi harus beli kuota. Lebih enak sekolah langsung, bisa ngobrol dan bercanda dengan teman,” kata M Risky Ramadhan, siswa kelas X jurusan Tata Boga kepada Mata Milenial Indonesia TV.

Siswi lain juga mengaku lebih menyukai sekolah tatap muka ketimbang online. Ingin tahu apa saja komentar mereka? simak video selengkapnya di bawah ini:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini