SEA Games 2021: Indonesia Hantam Timor Leste 4-1, Shin Tae-yong Nggak Puas

Baca Juga

MATA INDONESIA, PHU THO – Timnas Indonesia U-23 meraih kemenangan pertama di SEA Games 2021 dengan menundukkan Timor Leste 4-1. Kemenangan yang nggak membuat pelatih Shin Tae-yong senang.

Berlaga di Stadion Viet Tri, Selasa 10 Mei 2022 malam WIB, empat gol Indonesia dicetak Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman (2), dan Fachruddin Aryanto. Gol tunggal Timor Leste dicetak Mauzinho.

Ini adalah kemenangan pertama skuat Garuda Muda setelah pada laga pertama dihantam Vietnam 0-3. Shin Tae-yong mengapresiasi perjuangan anak asuhnya. Tapi, dia nggak sepenuhnya puas dengan hasil ini.

“Jujur kami menang dengan skor 4-1, tetapi kami tidak puas. Namun pastinya saya ingin mengucapkan selamat kepada pemain,” ujarnya.

“Namun kondisi kami sedang naik dan semakin baik. Kami akan mempersiapkan pertandingan lawan Filipina dan Myanmar dengan baik,” katanya.

Hasil ini menempatkan Indonesia di posisi keempat klasemen sementara Grup A dengan raihan tiga poin dari dua laga. Garuda Muda kalah satu poin dari Filipina dan Vietnam di tempat kedua serta ketiga. Posisi pertama di tempati Myanmar dengan enam poin dari dua laga. Posisi buncit ada Timor Leste poin nol.

“Pastinya kita memikirkan kemenangan lawan Filipina dan Myanmar. Jadi tidak terlalu memikirkan selisih gol. Kami akan bekerja maksimal di setiap pertandingan. Performa pemain akan meningkat dari pertandingan ke pertandingan,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini