“Saya Berharap Takkan Pernah Lagi Melihat Orang AS di Afghanistan”

Baca Juga

MATA INDONESIA, KABUL – Seorang guru, Shirin Tabriq menghabiskan waktu selama lima hari lima malam di luar Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, demi mendapatkan penerbangan. Tekadnya hanya satu meninggalkan Afghanistan!

Begitupun dengan seorang bidan bernama, Shagufta Dastaqgir. Akan tetapi keduanya bernasib sama, gagal! Mereka kecewa dan kehilangan kepercayaan dengan komitmen Barat yang ingin membantu Afghanistan.

Keduanya pun memilih untuk kembali pulang ke desa untuk memulai kehidupan baru di bawah pemerintahan Taliban. Kisah keduanya mencerminkan bahwa banyak warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu setelah Taliban kembali berkuasa.

Tabriq yang melarikan diri ke Pakistan pada Februari, murka dengan apa yang ia lihat sebagai kegagalan Amerika Serikat (AS) untuk berbuat lebih banyak untuk mengevakuasi warga Afghanistan sejak Taliban merebut Kabul pada 15 Agustus 2021.

Beberapa warga Afghanistan takut akan pembalasan Taliban terhadap mereka yang terkait dengan pemerintahan yang digulingkan dan didukung Barat. Kaum perempuan kembali khawatir, kelompok itu melarang mereka bekerja dan anak perempuan dari sekolah dan secara brutal menegakkan hukum Islam versi mereka.

Dalam beberapa hari terakhir kelompok tersebut telah bersumpah untuk menghormati hak-hak masyarakat dan mengizinkan perempuan untuk bekerja dalam kerangka syariah, tetapi apa makna dalam praktiknya masih belum jelas.

Adegan kekacauan di luar bandara telah mendominasi buletin berita di seluruh dunia. Pada Kamis (26/8), sedikitnya 110 orang dilaporkan meninggal dunia dan 140 mengalami luka dalam serangan bom bunuh diri di luar Bandara Kabul.

“Saya lebih suka hidup di bawah rezim baru daripada diperlakukan seperti sampah oleh orang asing,” kata Thabriq setelah hampir seminggu hidup dalam kemelaratan dan ketakutan bersama keluarganya, melansir Reuters, Sabtu, 29 Agustus 2021.

“Orang Amerika telah menghina setiap orang Afghanistan. Saya berasal dari keluarga terhormat … tetapi hidup di jalanan selama 5 malam membuat saya merasa seperti saya memohon kepada orang-orang yang tidak menghormati perempuan dan anak-anak,” sambungnya.

Tabriq menegaskan bahwa dia memiliki semua dokumen yang dia perlukan untuk pergi ke Pakistan. Akan tetapi tampaknya ada satu aturan bagi orang asing yang mencoba terbang keluar dari Kabul dan satu lagi untuk warga Afghanistan.

“Tidak ada satu orang pun yang mencoba menghentikan orang asing … Saya memiliki semua dokumen hukum untuk bepergian, dan mengapa Amerika menghentikan saya untuk keluar? Siapa mereka untuk menghentikan siapa pun?” katanya.

Pejabat Taliban telah mendesak warga Afghanistan untuk tidak pergi, dengan mengatakan bahwa mereka diperlukan untuk membantu menjalankan negara dan membuatnya makmur di masa depan. Beberapa pegawai pemerintah yang akan keluar telah kembali bekerja, meskipun yang lain bersembunyi.

Setelah kehilangan harapan untuk meninggalkan Afghanistan pada akhir Agustus, Tabriq memutuskan untuk tetap tinggal. Yang lain sedang menunggu kesempatan yang lebih baik untuk meninggalkan negara itu jika kekacauan mereda.

“Saya telah memutuskan untuk … pindah ke rumah desa kami di Faryab,” ucapnya, mengacu pada provinsi utara.

“Saya pikir kami akan menjalani kehidupan yang lebih baik di sana. Kami memiliki beberapa lahan pertanian; kami menanam gandum di sana dan beberapa buah-buahan. Kami memiliki sumur. Kami tidak membutuhkan apa-apa lagi … Orang Amerika semua bisa pergi, dan saya harap tidak akan pernah melihat mereka lagi di negara saya,” tuntasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Retreat Momentum Kepala Daerah Ciptakan Sinergitas dan Singkirkan Ego Politik

Oleh : Dwi Cahya Alfarizi )* Retreat Kepala Daerah yang digelar di Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi langkah strategis dalam...
- Advertisement -

Baca berita yang ini