RS Mitra Keluarga Auto Tega Tolak Wanita PDP Corona, Begini Kata Achmad Yurianto

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Beredar kabar di media sosial tentang seorang wanita yang diduga Pasien Dalam Pengawasan (PDP) wabah corona (COVID-19) ditolak oleh sebuah rumah sakit swasta. oleh Rumah sakit tersebut, ia malah disuruh untuk mendatangi empat rumah sakit besar sebagai rujukan, tanpa mekanisme yang baik.

“Ini aku udah kategorinya PDP dan rumah sakit itu nggak tahu harus ngapain, harus di mana. Dan kita bisa dilepas begitu saja disarankan untuk langsung ke empat rumah sakit besar tanpa pengawasan. Artinya ya kalau aku males lanjut ke rumah sakit besar yang ditunjuk itu aku cuma balik ke rumah, terus aku berhubungan dengan misalnya tetangga kanan kiri dan i’m fine. Aku ngerasa fine tapi ternyata aku positif itu nggak kebayang dampaknya kaya apa,” ujar perempuan itu dalam potongan video yang ikut diposting pada akun instagram Deddy Corbuzier.

View this post on Instagram

Malam ini saya akan podcast dengan kemenkes menanyakan apa yg sebenarnya terjadi.. Are we ready or not.. Is this hoax or not.. And if not.. This is Bad. Gw juga akan bertemu dgn Pak Anies menanyakan apa langkah kita selanjutnya.. Hope all well… God with u. Orang ini adalah korban dr corona, dia cek ke RS MItra, udah ada hasilnya.. hasilnya dia udah masuk kategori PDP alias Dalam pantauan corona.. Tapi dilepasin gitu aja ama Mitra, disuruh ke RS yg menangani khusus Corona.. Dilepas tanpa pengawasan!! Untung orang ini masih baik.. dia bisa share vidio ini.. Supaya kita lebih waspda, banyak orang yang sudah kena corona tapi MUNGKIN masih bertebaran di luar sana tanpa isolasi!!!? Itulah gunanya lebih baik kita tetap DIRUMAH BEBERAPA PEKAN KE DEPAN.

A post shared by Deddy Corbuzier, Ph.D (@mastercorbuzier) on

Belakangan diketahui, wanita ini memang dikabarkan baru saja pulang dari Italia dan memiliki beberapa gejala yang mengarah pada virus corona. Khawatir terkena virus tersebut, ia dengan segera mendatangi rumah sakit sebelum akhirnya ditolak.

Masalah yang dialami sang wanita pun kembali dibahas dalam dalam podcast-nya Deddy Corbuzier bersama Juru Bicara COVID-19, Achmad Yurianto.

“Ini sebenarnya pasien yang berobat ke rumah sakit Mitra Keluarga kalau nggak salah. Dia datang ke sana, kemudian dia adalah pasien yang diyakini menjadi Pasien Dalam Pengawasan (PDP)” ujarnya melansir akun Youtube Deddy Corbuzier pada Senin, 16 Maret 2020.

Achmad pun tak menampik bahwa memang terdapat beberapa rumah sakit yang tidak ingin orang umum mengetahui bahwa mereka sedang merawat pasien COVID-19. “Kita menyadari betul bahwa rumah sakit-rumah sakit, beberapa rumah sakitlah, dia menjaga citranya dengan ‘jangan sampai ketahuan orang bahwa saya merawat COVID-19’. Kalau ketahuan semua pasien yang lain gak mau dateng. This is bussiness,” katanya.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh pihak rumah sakit dengan menolak pasien secara tidak etis termasuk melanggar hukum yang telah berlaku. Maka akan ada asosiasi rumah sakit yang menindaklanjuti dan mengambil sikap terhadap kasus tersebut.

“Kan ada asosiasinya ya kan, silahkan diberi kartu kuning dan sebagainya. Tapi kalau masih aneh, ya silahkan kasih kartu merah begitu. Undang-undang RS tegas kok,” ujarnya.

“Memang tidak semua rumah sakit menerima semua pasien. Tentu ada kapasitasnya kan. Misalnya ada pasien yang punya kasus bedah dan datang ke rumah sakit yang tidak punya dokter beda, its ok, silahkan dirujuk ke tempat lain, tapi ada mekanismenya,” tambahnya.

Ahmad pun mengakui bahwa di Indonesia memang masih banyak rumah sakit yang menolak pasien SARS-CoV-2 untuk mereka tangani dengan berbagai alasan. Salah satunya agar rumah sakit tidak sepi akibat pasien lain yang ketakutan.

“Itu yang terjadi. Banyak sekali rumah sakit yang menolak kasus ini. Itulah kenapa kami dari awal tidak pernah ingin dengan keras menyebut nama rumah sakit. Kami tidak pernah mau merilis nama rumah sakit kecuali Sulianti Saroso dan Persahabatan,” ujarnya.

Ia pun memberikan contoh, misalnya pihak pertamina setelah mengetahui wabah ini terus menyebar, mereka langsung mengosongkan rumah sakit di bawah naungannya untuk dijadikan khusus bagi pasien COVID-19.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini