PSSI Dituduh Belum Bayar Honor Wasit Piala Soeratin dan Liga 3

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Beberapa wasit mengklaim belum menerima honor saat memimpin Piala Soeratin dan Liga 3 Nasional. Laporan ini diterima #SaveOurSoccer (SOS).

#SaveOurSoccer menerima sejumlah laporan dari para wasit yang minta namanya dirahasiakan bahwa honor mereka saat memimpin Piala Soeratin dan Liga 3 Nasional belum dibayarkan.

“Terima kasih telah mewadahi aspirasi kami. Benar mayoritas wasit Piala Soeratin sampai hari ini belum menerima semua haknya. Tolong kasihani kami. Sejak bulan Maret 2022 belum cair. Bahkan, kami keluar uang tiket dari kota asal ke venue belum diganti,” ujar seorang wasit.

“Saya tugas sebagai wasit Piala Soeratin di Malang. Sampai sekarang belum ada kejelasan honor. Beli tiket ke Malang pakai uang pribadi sudah hubungi Sekjen PSSI tidak ada respons,” kata wasit lainnya.

Wasit Piala Soeratin dan Liga 3 Nasional Babak 64 Besar dan 32 Besar sistemnya paket. Tiap pertandingan totalnya Rp4,5 juta sampai Rp5,5 juta untuk wasit tengah, 2 hakim garis dan cadangan. Ada yang memimpin hanya 1 laga, 2 laga, paling banyak 5 laga.

“Inilah salah satu pemicu terjadinya #matchfixing dan #matchsetting di sepakbola nasional. Akibatnya, banyak wasit yang akhirnya dikeroyok dan digebukin sampai babak belur,” kata ketua #SaveOurSoccer, Akmal Marhali.

“Sungguh dzalim menunda membayar honor pekerja padahal keringatnya sudah kering. Jangan dulu bicara profesionalitas, kualitas, dan timnas yang hebat, bila membayar honor wasitnya saja masih menunggak. Inilah wajah buruk #sepakbolanasional. Sungguh memprihatinkan,” ujarnya.

“SOS mendesak dalam hal ini @kemenpora dan @kapolri.id @kapolri_indonesia sebagai kepanjangan tangan Presiden @jokowi untuk tidak memberikan izin menggelar pramusim bahkan kompetisi bila honor wasit belum dibayarkan!” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal. Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia. Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat. Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini