Polisi Temukan 28 Pengikut Keraton Agung Sejagat di Klaten

Baca Juga

MATA INDONESIA, JATENG - Pengikut Keraton Agung Sejagat dengan raja dan ratu abal-abalnya, yakni Totok Santosa-Fanni Aminadia ternyata tak hanya ditemui di Purworejo saja.

Laporan terbaru dari Polda Jateng, pengikut keraton palsu itu sudah menyebar sampai ke Klaten. Jumlah pengikutnya bahkan ditemui sudah berjumlah 28 orang, tepatnya di Desa Brajan, Kecamatan Prambanan.

“Mereka dipimpin seseorang yang diberi jabatan maha menteri Keraton Agung Sejagat Saudari Wiwik. Pengikutnya 28 orang,” kata Kabid Humas Polda Jateng Iskandar Fitriana Sutisna, Kamis 16 Januari 2020.

Di tempat tersebut, polisi sudah melakukan pengecekan. Ditemukan sebuah batu prasasti yang bertuliskan Sendang Panguripane Jagad, juga tempat pertemuan para pengikut.

“Sudah kami sita barang bukti, itu termasuk seragam kerajaan. Saksi juga sudah diperiksa untuk pengikut KAS di Klaten,” ujarnya.

Sementara ini, Totok Santosa dan Fanni Aminadia telah ditahan oleh kepolisian. Kedua orang yang mengaku-ngaku sebagai raja dan ratu itu belakangan diketahui bukan merupakan suami istri.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini