Perempuan Afghanistan Tolak Kabinet Sementara Bentukan Taliban

Baca Juga

MATA INDONESIA, KABUL – Sejumlah perempuan di Kabul dan provinsi Badakhshan di Afghanistan timur melakukan protes terkait pembentukan pemerintah sementara Taliban. Mereka kecewa karena tidak ada keterlibatan perempuan dalam kabinet.

Para demonstran mengatakan mereka tidak akan menerima pemerintahan tanpa menteri perempuan. Beberapa perempuan dilaporkan mendapat pukulan sebelum protes dibubarkan, melansir yahoo News, Kamis, 9 September 2021.

Organisasi berita lokal Etilaatroz mengatakan beberapa wartawannya ditahan dan dipukuli karena meliput rapat umum. Hingga saat ini, Taliban yang belum menanggapi tuduhan itu, memperingatkan bahwa protes semacam itu ilegal.

Uni Eropa mengatakan Taliban mengingkari janji untuk membuat pemerintah inklusif dan representative. Sementara Amerika Serikat (AS) prihatin karena Taliban memasukkan tokoh-tokoh yang terkait dengan serangan terhadap pasukan AS.

Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan virtual 20 negara Barat, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan pemerintah Taliban tidak memenuhi uji inklusivitas dan itu termasuk orang-orang yang memiliki rekam jejak kelam.

Akan tetapi, Cina mengatakan bahwa mereka menyambut akhir dari apa yang mereka rebut sebagai tiga pekan anarki di Afghanistan. Negeri Tirai Bambu juga menjanjikan dana sebesar 31 juta USD atau sekitar 442 miliar Rupiah dalam bantuan segera untuk negara yang kembali dikuasai Taliban itu.

Menanggapi pemerintah sementara Afghanistan yang dibentuk Taliban, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Wenbin mengatakan bahwa itu adalah langkah yang diperlukan untuk memulihkan keterlibatan dan membangun kembali negara.

Sementara Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF) yang notabene anti-Taliban mendesak masyarakat Internasional untuk tidak mengakui pemerintahan yang baru dibentuk tersebut.

NRF menyebut kabinet itu ilegal dan sebuah tanda yang jelas dari permusuhan kelompok itu dengan rakyat Afghanistan. NRF, yang dipimpin oleh Ahmad Massoud, putra mendiang ikon perlawanan Ahmad Shah Massoud, telah memerangi gerilyawan Taliban di Lembah Panjshir di utara Kabul, yang merupakan benteng anti-Taliban terakhir Afghanistan.

Taliban bersikeras bahwa mereka sekarang telah mengalahkan NRF di Panjshir, tetapi para pemimpin NRF mengatakan mereka masih berjuang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bonus Hari Raya Ojol, Kesejahteraan Bagi Gig Worker

Oleh: Alexander Royce*) Transformasi ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir telah melahirkan jutaanpekerja sektor informal berbasis aplikasi atau gig worker. Di antara mereka, pengemudi ojek online (ojol) menjadi tulang punggung mobilitas dan distribusi barang, terutama di momen-momen krusial seperti Ramadan dan Idulfitri. Tahun ini, kabar mengenai pencairan Bonus Hari Raya (BHR) bagi para pengemudi ojol menjadi angin segar yang tidak hanya berdampak pada kesejahteraan pekerja, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional. Langkah pemerintah memastikan kembali pemberian Bonus Hari Raya bagi pengemuditransportasi daring menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap pekerja sektor informal digital. Kebijakan ini relevan dengan situasi terkini, di mana daya beli masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi menjelang Lebaran 2026. Dengan lebih dari 850 ribupengemudi yang dipastikan menerima bonus tahun ini, dampaknya tidak bisa dipandang sebelahmata. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, memastikan bahwa para pengemudi ojol kembalimendapatkan Bonus Hari...
- Advertisement -

Baca berita yang ini