Perancang Penyerbuan ke Irak Donald Rumsfeld Meninggal

Baca Juga

MATA INDONESIA, WASHINGTON – Perancang dan pengagas penyerbuan Amerika Serikat ke Irak, Donald Rumsfeld yang juga mantan menteri pertahanan AS meninggal dunia, Kamis 1 Juli 2021.

Mengutip AP, keluarga besar Rumsfeld mengumumkan meninggalnya politikus Partai Republik bukan karena Covid-19 dan pada usia 88 tahun di kediamannya di Taos, New Mexico.

Rumsfeld yang dianggap bertanggung jawa atas ribuan orang korban perang Irak dan AS  setelah pensiun dari panggung politik pada 2006 fokus mengembangkan perangkat lunak dan membuat aplikasi permainan kartu digital.
Kawan dekat Presiden AS George Bush ini dikenal sebagai politikus Partai Republik. Ia adalah orang yang merancang penyerbuan ke Irak dengan alasan mencari senjata pemusnah massal, dan Afghanistan dengan dalih perang melawan kelompok teroris Al-Qaidah. Belakangan, tudingan itu ternyata palsu dan tidak terbukti kebenarannya.

Donald Rumsfeld lahir 9 Juli 1932 di Chicago sebelum terjun ke dunia politik dikenal sebagai atlet gulat dan football Amerika. Ia menempuh pendidikan di Universitas Princeton dan setelah lulus melamar ke Angkatan Laut AS.

Karier militer Rumsfeld tidak berkembang. Ia kemudian memilih dunia politik pada usia 30 tahun dan terpilih menjadi anggota Kongres AS dari daerah pemilihan Illinois. Meski ia dari Partai Republik,  ia menjadi pendukung gerakan hak-hak sipil kaum Afrika-Amerika, dan juga menyoroti tentang keterlibatan AS dalam Perang Vietnam.

Pada usia 43 tahun, Rumsfeld didapuk sebagai menteri pertahanan di era Presiden Gerald Ford di 1975. Dia kembali menduduki jabatan yang sama di era pemerintahan Presiden George Walter Bush.

Di masa pemerintahan Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney, Rumsfeld memutuskan menyerbu Afghanistan pada Desember 2001. Dia beralasan membalas perbuatan Al-Qaidah terkait teror Gedung World Trade Center di New York pada 11 September 2001.

Selain itu, AS juga menyerang kelompok Taliban yang diduga memberi perlindungan kepada Al-Qaidah yang saat itu dipimpin Osama bin Laden. Karena keputusan itu, citra Rumsfeld sebagai politikus terangkat.

Akan tetapi, citra itu perlahan pudar ketika Rumsfeld dan Bush memutuskan menyerang Irak pada 20 Maret 2003, dengan dalih mencari senjata pemusnah massal. Alhasil rezim pemerintahan Irak yang saat itu dipimpin Saddam Hussein, runtuh dan membuat situasi semakin kacau dan memicu perang saudara.

Setelah Partai Baath yang didukung Saddam Hussein bubar, kelompok Muslim Sunni yang tadinya berlindung di bawah kekuatan politik itu memberontak terhadap mayoritas kaum Syiah. Sementara kelompok Syiah juga membentuk milisi dan mendapat bantuan dari Iran.

Akibat penyerbuan itu, Irak juga menjadi salah satu lahan subur berkembangnya kelompok bersenjata dan teroris. Padahal sampai saat ini tuduhan senjata pemusnah massal yang diduga dimiliki Irak sulit dibuktikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini