Pengamat: Terawan Menteri Pertama yang Diganti Jika Ada Reshuffle

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Pengamat politik dari Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, memprediksi Menkes Terawan Agus Putranto sebagai menteri yang paling pertama diganti jika ada reshuffle.

“Kalau saya menilai semua menteri, saya melakukan pelanggaran yang disebut eknokratik. Seharusnya yang berbicara ya pakar dalam ahli masing-masing bidang. Tapi sebagai warga dan ketakutan saya yang akan di-reshuffle Terawan,” kata Yunarto dalam diskusi daring, Sabtu 4 Juli 2020.

Ia mengatakan sikap Terawan diawal pandemic dan membaca hasil angka postif itu jelek. Tetapi, untuk mengganti Terawan, Jokowi perlu pertimbangan teknokratis. Artinya, ia harus benar-benar memilih pakar pada sebuah bidang.

Ia menilai nama usulan dari partai tidak pas, karena logika mereka tidak teknokratis.

“Saya sepakat oligarki memang menjadi problem yang sangat bermasalah ketika nama-nama yang diberikan oleh partai itu tidak spesialis, karena logika mereka tidak teknokratis,” kata Yunarto.

Siapa pun nama menteri yang akan diusulkan, harus disaring melalui filter keahlian atau filter teknokratis. Ia juga merasa presiden perlu membatasi nama yang harus diseleksi dari filter teknokratis tersebut.

“Itu yang harus kita push dari presiden siapa pun dia. Sehingga kemudian politik dagang enggak buruk buruk amat secara kualitatif,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini