Pendukung Garis Keras Trump Kembali Menyerbu Capitol Hill

Baca Juga

MATA INDONESIA, WASHINGTON – Massa pendukung mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali menyerbu Capitol Hill atau gedung DPR AS. Sekitar 100 hingga 200 pengunjuk rasa hadir dengan membawa bendera sayap kanan Three Percenters di atas bagu mereka.

Namun, jumlah itu jauh lebih sedikit dari yang diprediksi pihak penyelenggara, yakni 700 pendemo. Sementara pihak berwenang mengerahkan aparat keamanan dengan jumah yang lebih besar, sehingga dengan mudah mengawal aksi yang berlangsung di Washington DC pada akhir pekan kemarin.

Pagar hitam setinggi dua kaki (2,44 m) juga terlihat dipasang mengelilingi Capitol Hill, mengantisipasi kemungkinan terulangnya insiden yang terjadi pada 6 Januari 2021. Sementara 100 anggota Garda Nasional juga disiagakan di sekitar area Capitol Hill.

“Ini tentang keadilan dan perlakuan yang berbeda,” kata Matt Braynard, penyelenggara rapat umum dan pendukung garis keras Donald Trump, melansir Reuters, Minggu, 19 September 2021.

Aksi unjuk rasa diwarnai bentrokan. Polisi dengan sepda bergerak untuk membubarkan beberapa pertengkara. Polisi Capitol turut menangkap empat demonstran, termasuk seorang pria yang membawa pistol.

Petugas keamanan dengan perlengkapan anti huru hara juga menangkap seorang pria yang memiliki pisau besar diikatkan ke pinggulnya.

Penyelenggara aksi unjuk rasa “Keadilan untuk J6” menyerukan acara damai, tetapi Kepala Polisi Capitol AS J. Thomas Manger mengatakan ada ancaman kekerasan, beberapa menargetkan anggota individu Kongres.

Tony Smith, 40, dari Upper Marlboro, Maryland, mengatakan dia datang untuk menyuarakan dukungannya untuk proses peradilan yang adil bagi mereka yang didakwa melanggar Capitol.

“Jika kami tidak menghormati itu, kami tidak menghormati Amerika,” kata Smith, yang membawa papan poster bertuliskan “Kami Ingin Trump!”

Lebih dari 600 orang telah didakwa karena terlibat dalam insiden yang terjadi pada 6 Januari 2021. Mereka menyerbu Capitol Hill menyusul pernyataan Trump untuk berjuang dan klaim adanya kecurangan pada pemilihan Presiden AS yang diselenggarakan pada November tahun lalu.

Ketika itu, para pendukung garis keras Trump  melawan polisi, memukuli mereka dengan tongkat dan barikade logam, menerobos jendela ke gedung Capitol dan berlari melewati aula, membuat anggota parlemen dan Wakil Presiden saat itu Mike Pence berlari menyelamatkan diri.

Setidaknya empat orang dilaporkan tewas pada insiden saat itu. Seorang petugas Polisi Capitol yang telah diserang oleh pengunjuk rasa meninggal sehari setelahnya dan empat petugas polisi yang mengambil bagian dalam pertahanan Capitol kemudian melakukan bunuh diri.

Hampir 50 demonstran sejauh ini mengaku bersalah atas tuduhan terkait kekerasan, sementara 9 lainnya mengaku melakukan kejahatan. Sebagian besar terdakwa telah dibebaskan menunggu persidangan tetapi sekitar 75 masih ditahan, menurut dokumen pengadilan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menjaga Netralitas Aparatur Sipil Negara Demi Wujudkan Pilkada 2024 Berintegritas

Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan aspek krusial dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Sebagai pelayan publik, ASN memiliki...
- Advertisement -

Baca berita yang ini