Pendekatan Lunak dan Tegas pada Teroris Harus Seimbang

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pendekatan lunak dan tegas harus berjalan seimbang untuk mengantisipasi aksi terorisme. Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta menilai bahwa terdapat beberapa wujud pendekatan lunak dan tegas yang bisa diterapkan untuk menangani terorisme.

“Hard approach diterapkan untuk kelompok yang telah melanggar hukum dengan melakukan kekerasan dan membahayakan masyarakat,” kata Stanislaus Riyanta kepada Mata Indonesia News, Rabu 10 Maret 2021.

Pendekatan ini bisa dilakukan terhadap kelompok teroris yang tidak segan melakukan kekerasan dan membahayakan masyarakat. Seperti halnya kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Organisasi pimpinan Ali Kalora ini sangat membahayakan sehingga pendekatan tegas dilakukan oleh aparat keamanan.

Selain itu, pendekatan lunak atau soft approach juga digunakan untuk mengantisipasi pergerakan terorisme. Upaya ini dilakukan terhadap oknum yang masih dalam fase belum melakukan tindak kejahatan yang membahayakan nyawa masyarakat.

“Soft approach untuk kelompok yang sudah mulai tertarik, mendalami atau bergabung dengan kelompok ideologi radikal tapi belum melakukan kekerasan atau perbuatan melanggar perbuatan hukum lainnya,” kata Stanislaus.

Namun saat ini pendekatan yang bersifat lunak masih menjadi prioritas terutama dalam proses deradikalisasi. Pendekatan jenis ini dilakukan baik di dalam penjara maupun setelah mantan narapidana teroris (napiter) keluar dari penjara.

Proses deradikalisasi di luar penjara tetap harus dilakukan supaya mantan napiter tidak terjebak lagi ke dalam kelompok lamanya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

KPU Pastikan Seluruh PPS Pilkada Jaga Integritas, Profesional dan Netralitas

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) memerintahkan kepada seluruh Panitia Pemungutan Suara (PPS) dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini