Penangkapan Dalang Kerusuhan di Yahukimo Bukti Negara Hadir Bagi Masyarakat

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tim gabungan Polres Yahukimo dan Satuan Tugas (Satgas) Nemangkawi berhasil menangjap Morume Keya Busup yang merupakan dalang kerusuhan yang terjadi di Yahukimo, Papua. Pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta menilai bahwa penangkapan tersebut merupakan wujud bahwa negara hadir di tengah masyarakat.

“Dalang kerusuhan memang harus ditangkap dan diproses hukum, ini bukti negara hadir di masyarakat,” kata Stanislaus kepada Mata Indonesia News, Minggu 10 Oktober 2021.

Selain itu, Stanislaus juga menegaskan bahwa gerak cepat yang ditunjukkan oleh Satgas Nemangkawi merupakan hal yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.

“Jika tidak ditangkap maka bisa menjadi hal yang tidak baik terutama kepercayaan masyarakat terhadap aparat. Tentu saja penangkapan tersebut harus disertai dengan bukti-bukti yang cukup,” kata Stanislaus.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menegaskan bahwa Morume merupakan orang yang masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pihak kepolisian sehingga aparat keamanan langsung bergerak cepat menangkap pelaku. Tidak hanya itu, tim gabungan juga berhasil menangkap satu orang lain bernama Beto Ordias.

Keduanya berstatus tersangka dan telah diamankan serta dibawa ke Polres Yahukimo. Mereka akan menjalani penyidikan lebih mendalam.

“Kasus tersebut telah ditangani oleh Polres Yahukimo,” kata Argo.

Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu buah busur, sembilan anak panah, satu buah kampak, satu unit ponsel, perangkat elektronik dan identitas diri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini