Pemerintah Perketat Standar Gizi MBG, UPF dan Menu Pedas Dilarang Selama Ramadan

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memperketat standar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 1447 H dan periode libur nasional tahun 2026. Kebijakan ini ditegaskan dalam pedoman teknis terbaru yang mengatur komposisi menu, standar keamanan pangan, serta mekanisme distribusi selama bulan puasa. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk penguatan kualitas program sekaligus memastikan kesehatan penerima manfaat tetap terjaga.

Dalam ketentuan terbaru, BGN melarang penggunaan produk ultra-processed food (UPF) dalam seluruh menu MBG selama Ramadan. Produk UPF dinilai berisiko karena umumnya mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna, serta perasa sintetis yang tidak sejalan dengan prinsip gizi seimbang. Selain itu, menu bercita rasa pedas juga tidak diperkenankan selama periode puasa guna mencegah gangguan lambung dan iritasi pencernaan pada penerima manfaat.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil evaluasi pelaksanaan MBG sebelumnya serta mempertimbangkan aspek kesehatan masyarakat selama Ramadan.

“Kami memastikan bahwa standar gizi tetap terpenuhi, namun komposisi menu harus disesuaikan dengan kondisi puasa. UPF dan makanan pedas kami larang demi menjaga keamanan pangan dan kesehatan penerima manfaat,” ujar Dadan.

Pemerintah juga mengatur penyesuaian mekanisme distribusi. Selama Ramadan, sebagian wilayah akan menerapkan sistem paket makanan kering atau bundling yang dapat dikonsumsi saat berbuka puasa. Skema ini dinilai lebih efektif dalam menjaga kualitas makanan selama distribusi, terutama pada periode libur panjang dan cuti bersama.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa Program MBG tetap berjalan penuh selama Ramadan dengan standar pengawasan yang diperketat.

“Program ini tetap berjalan. Yang kami lakukan adalah penyesuaian agar makanan lebih aman, lebih sehat, dan sesuai dengan kebutuhan saat puasa. Tidak boleh ada kompromi terhadap kualitas gizi,” tegasnya.

Dalam pedoman tersebut, pemerintah mendorong penggunaan bahan pangan segar dan lokal seperti telur, ikan, ayam, daging olahan rumahan, buah, serta kurma sebagai sumber energi alami. Standar gizi tetap disesuaikan berdasarkan kelompok usia penerima manfaat agar kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien tetap terpenuhi.

Pemerintah menegaskan bahwa penguatan standar ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Dengan penyesuaian menu dan distribusi selama Ramadan 2026, pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan optimal, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Program Future Leaders Bootcamp AMANAH Jadi Pilar Penguatan SDM Unggul Aceh

*) Oleh: Teuku Rizky SyahputraMomentum relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul-Hebat (AMANAH) tidaksekadar menjadi agenda seremonial, melainkan menandai fase konsolidasi strategisdalam pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Penguatan peran lembaga inimencerminkan kesadaran bahwa investasi terbesar suatu daerah terletak padakualitas generasi mudanya. Dalam konteks pembangunan nasional yang semakinkompetitif, keberadaan wadah pembinaan yang terarah menjadi kebutuhanmendesak. Oleh karena itu, langkah AMANAH dalam menyelaraskan program pembinaan pemuda patut dipandang sebagai bagian dari orkestrasi kebijakan yang lebih luas.Selanjutnya, penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB) menjadi indikasikonkret bahwa proses pembinaan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan dirancangsecara sistematis dan berbasis kebutuhan zaman. Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Industri Aceh ini menunjukkan adanya integrasi antara pengembangankapasitas individu dengan realitas dunia usaha. Pendekatan ini relevan, mengingattantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkutat pada aspek akademik, tetapijuga pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika ekonomi global. Dengandemikian, FLB tidak hanya menjadi ruang pelatihan, tetapi juga laboratoriumkepemimpinan masa depan.Lebih jauh, seleksi ketat terhadap 26 peserta dari berbagai daerah di Aceh mencerminkan upaya serius dalam menjaring talenta terbaik. Proses ini menunjukkanbahwa pembinaan pemuda tidak dapat dilakukan secara massal tanpa standarkualitas yang jelas. Justru, pendekatan berbasis meritokrasi menjadi kunci dalammenciptakan dampak yang berkelanjutan. Para peserta yang terpilih bukan hanyarepresentasi individu unggul, tetapi juga simbol harapan bagi daerahnya masing-masing. Dalam konteks ini, AMANAH telah menempatkan kualitas sebagai fondasiutama programnya.Di sisi lain, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menegaskan bahwaurgensi kehadiran lembaga ini dalam membangun generasi muda Aceh yang berdayasaing. Ia memandang bahwa pembinaan tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan harus menyentuh aspek pembentukan karakter dankepemimpinan. Penekanan pada pentingnya pola pikir kepemimpinan yang kuat sertakomitmen tinggi menjadi relevan di tengah tantangan disrupsi global. Perspektif inisejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan pembangunanmanusia sebagai prioritas utama.Lebih lanjut, dorongan agar pemuda berperan aktif dalam pembangunanberkelanjutan memperlihatkan adanya keselarasan antara program AMANAH dengannilai-nilai kebangsaan. Dalam hal ini, generasi muda tidak hanya diposisikan sebagaiobjek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab moral dansosial. Semangat cinta tanah air menjadi elemen penting yang harus diinternalisasidalam setiap proses pembinaan. Dengan demikian, output yang dihasilkan tidakhanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas kebangsaan.Selain itu, keterlibatan Said Muniruddin sebagai narasumber utama memberikandimensi akademik sekaligus praktis dalam pelatihan ini. Sebagai akademisiUniversitas Syiah Kuala dan praktisi pengembangan diri, ia membawa pendekatan yang komprehensif dalam membangun kapasitas peserta. Materi mengenai pola pikirkewirausahaan menjadi salah satu titik tekan yang strategis. Hal ini mengingatkewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan bisnis, tetapi juga dengan keberanianmengambil risiko, inovasi, dan kemampuan membaca peluang.Kemudian, desain materi yang sistematis dan aplikatif menunjukkan bahwa program ini tidak berhenti pada tataran konseptual. Peserta didorong untuk menginternalisasi...
- Advertisement -

Baca berita yang ini