Pelatih Arsenal Sedih Messi Hengkang, Berharap Main di Liga Inggris

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Pelatih Arsenal, Mikel Arteta sedih mengetahui Lionel Messi ingin hengkang dari Barcelona. Meski demikian, Arteta berharap Messi main di Liga Premier Inggris.

Messi menyatakan keinginannya pindah dari Barcelona, Selasa 25 Agustus 2020 melalui surat yang dikirimkan via faks. Pemain 33 tahun menghabiskan kariernya nyaris dua dekade di Camp Nou dan meraih banyak gelar.

Kekalahan Barcelona 2-8 dari Bayern Muenchen di Liga Champions dan hasil pertemuan empat mata dengan pelatih Ronald Koeman diyakini menjadi pemicu Messi ingin meninggalkan Blaugrana.

Beberapa klub dikabarkan siap menampung Messi, seperti Manchester City, Inter Milan, dan PSG. Tapi, kabarnya pemain asal Argentina akan merapat ke City dan reuni dengan Pep Guardiola.

“Dia (Messi) dihubungkan dengan klub mana saja. Ada banyak klub yang dikaitkan dengannya dibandinkan pemain lain sepanjang sejarah. Sejak kecil saya fan Barcelona, jadi saya sedih melihat dia pergi. Menurut pendapat saya, dia pemain terbaik dalam sejarah sepak bola,” ujar Arteta, dikutip dari Sky Sports, Jumat 28 Agustus 2020.

“Kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Jika datang ke Inggris, kami akan sangat menikmatinya. Jika dia bermain menghadapi Arsenal, itu tidak masalah. Kita harus mencari cara, jika bukan di Liga Inggris, mungkin kami harus menghadapinya di Liga Champions. Anda ingin pemain terbaik di liga, sebagai atlet, Anda ingin main di kompetisi terbaik,” katanya.

“Saya pernah bermain menghadapi Cristiano Ronaldo di Liga Premier Inggris dan itu sangat menyenangkan. Kehadiran Ronaldo meningkatkan level setiap individu dalam tim,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini