Pekat IB DIY Tolak Gerakan Free West Papua, Ingatkan Mahasiswa Baru untuk Lebih Membuka Pikiran

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) DIY mengajak masyarakat Yogyakarta untuk menolak ajakan Free West Papua (FWP) dalam aksi yang sudah digelar hari ini, Sabtu 1 April 2023 siang.

Meskipun mendukung demokrasi, mereka menentang gerakan FWP dan menghargai bulan suci Ramadan dengan tidak melakukan aksi atau menghalangi aksi mereka.

“Kita tidak menghalangi cara-cara mereka yang ingin merdeka dari Indonesia. Namun perlu digarisbawahi bahwa dengan tidak mendukung gerakan ini pun demokrasi di Indonesia juga tidak mundur,” terang Dani Eko Wiyono, ketua Pekat IB DIY, melalui keterangannya, Sabtu.

Dani menekankan pentingnya merespons ajakan tersebut dengan bijak dan tidak membiarkan upaya FWP mengganggu ketenangan belajar mahasiswa Papua.

Dani juga meminta mahasiswa untuk tidak terpengaruh oleh ajakan yang mempromosikan isu disintegrasi, karena hak menyampaikan pendapat di depan umum tidak termasuk memisahkan diri dari NKRI, yang jelas melanggar undang-undang.

“Harapannya adik-adik Papua yang junior itu lebih membuka pikirannya lagi. Jadi harus lebih peka lagi. Bisa jadi gerakan ini memanfaatkan mahasiswa Papua junior yang ada di DIY,” katanya.

Ia masih meyakini bahwa mahasiswa baru bisa lebih bijak menanggapi isu tersebut. Dani meyakini mahasiswa Papua generasi baru lebih fokus untuk belajar dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini