PBSI Ungkap Alasan Depak Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti dari Pelatnas

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – PBSI mencoret ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dari pelatnas. Salah satu alasan adalah prestasi yang menurun.

Sepanjang tahun 2021, PBSI menilai Praveen/Melati gagal memenuhi harapan. Sejak juara All England 2020, penampilan mereka turun drastis. Pencapaian terbaik hanya runner-up Thailand Open 2020 dan Hylo Open 2020.

Di tiga turnamen di Bali, penampilan keduanya juga mengecewakan. Kalah di babak pertama Indonesia Masters 2021, tumbang di babak kedua Indonesia Open 2021, dan nggak lolos penyisihan grup World Tour Finals.

Selain prestasi, PBSI ingin melakukan generasi di ganda campuran demi target meraih medali di Olimpiade 2024 di Paris.

“Benar Praveen Jordan/Melati Daeva tak masuk pelatnas kali ini. Ada beberapa parameter yang kami gunakan untuk Pelatnas 2022 ini,” kata pelatih ganda campuran, Nova Widianto.

“Pertama prestasi. Prestasi mereka satu dua tahun ini seperti apa, kedua usia, ketiga berapa lama mereka sudah di pelatnas, dan terakhir karakter,” ujarnya.

“Setelah All England hasilnya tidak memuaskan, dan kami di PBSI ingin ada regenerasi. Yang pasti satu dua tahun ini ganda campuran ini belum bisa mengumbang gelar,” ucapnya.

Kini PBSI mengandalkan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari dan Adnan Maulana/Mychelle Chrystine. Satu ganda campuran lainnya, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja juga dicoret.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini