Papua Mendapat Keistimewaan karena Termasuk Daerah yang Spesial

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Provinsi Papua dan Papua Barat memiliki keistimewaan karena dinilai termasuk sebagai daerah yang spesial. Maka, pemerintah fokus terhadap dua wilayah tersebut dengan menerapkan UU Otonomi Khusus (Otsus) yang diatur dalam UU No 21 Tahun 2001.

Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik mengatakan bahwa hal tersebut tidak lepas dari dinamika di Papua yang berbeda dengan daerah otonom lainnya di Indonesia.

“Dalam UU Otsus ada beberapa privilege yang bisa disampaikan mulai dari anggaran, ada juga pilih pimpinannnya, artinya secara umum bersama 4 daerah lain di Indonesia seperti DKI Jakarta, Yogyakarta, Aceh, dan Papua Barat, memiliki ruang yang jauh lebih besar dari wilayah otonom lainnya,”kata Akmal Malik dalam Simposium Nasional bertajuk ‘Dialog Papua: Refleksi, Visi dan Aksi’ di Kanal Youtube HUMAS SIL dan SKSG UI, Rabu 26 Mei 2021.

Akmal Malik juga menilai bahwa pemberlakukan UU Otsus Papua sejauh ini mampu mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan wilayah serta sumber daya manusia (SDM) yang ada di Papua.

“Otsus itu ada 4 fokus, pertama meningkatkan taraf hidup orang asli Papua yaitu mewujudkan keadilan, pemerataan pembangunan, pemenuhan hak-hak orang Papua dan tata kelola pemerintahan yang baik, sejatinya di dalam Undang-Undang No 21 Tahun 2001, norma-norma ini sudah tercatum meski tidak tajam,” kata Akmal.

Adapun pemerintah melalui Kemendagri akan terus mengoptimalkan kebijakan Otsus dengan meningkatkan dananya. Hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian pada 8 April 2021 lalu.

“Besaran dana otonomi khusus, kami pandang perlu ditambah dari 2 persen menjadi 2,25 persen guna mempercepat pembangunan dan kesejahteraan di Papua,” kata Tito.

Ia menilai dana Otsus masih sangat dibutuhkan oleh Provinsi Papua dan Papua Barat karena selama ini dana tersebut merupakan sumber utama dalam pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dua provinsi tersebut.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Saat Pemerintah dan BI Bersinergi Menjaga Rupiah

Oleh : Ricky Rinaldi Stabilitas nilai tukar rupiah memiliki peran penting dalam menjaga ketahananekonomi nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan moneter negara maju, serta fluktuasi pasar keuangan internasional, nilai tukar menjadi salah satu indikator yang mencerminkan kepercayaan terhadap perekonomian suatu negara. Dalam situasitersebut, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor kunci dalammenjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.Nilai tukar tidak hanya berkaitan dengan transaksi perdagangan internasional, tetapijuga berpengaruh terhadap inflasi, investasi, dan daya beli masyarakat. Ketika rupiah berada dalam kondisi stabil, pelaku usaha dapat melakukan perencanaanbisnis dengan lebih baik dan masyarakat memiliki kepastian yang lebih besar dalammenjalankan aktivitas ekonomi. Karena itu, stabilitas rupiah menjadi kepentinganbersama yang perlu dijaga secara berkelanjutan.Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa stabilitasekonomi merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pembangunan nasional. Dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang, pemerintahberkomitmen menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang terukur dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Stabilitas rupiah menjadi bagian dariupaya menciptakan iklim ekonomi yang sehat dan kondusif.Pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal yang disiplin dan berkelanjutan. Pengelolaan Anggaran Pendapatandan Belanja Negara yang sehat memberikan sinyal positif kepada pasar bahwaperekonomian nasional berada dalam kondisi yang terkendali. Ketika kebijakan fiskalberjalan secara kredibel, tekanan terhadap nilai tukar dapat diminimalkan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa koordinasi kebijakanmenjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai risiko ekonomi global. Menurutnya, pengelolaan fiskal yang prudent perlu berjalan seiring dengankebijakan moneter yang responsif agar stabilitas ekonomi dapat tetap terjaga. Pendekatan yang terintegrasi akan memperkuat kemampuan Indonesia menghadapiberbagai tekanan eksternal.Di sisi lain, Bank...
- Advertisement -

Baca berita yang ini