Omnibus Law Cipta Kerja Percepat Pemulihan Ekonomi Tahun Depan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Indonesia membutuhkan lompatan besar untuk memperbaiki ekonominya yang luluh lantak dihantam pandemi Covid19, sehingga dihadirkanlah Omnibus Law Cipta Kerja sebagai pendorong pemulihan ekonomi tahun depan.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, semua negara mengalami shock besar akibat Pandemi Covid19.

Pertumbuhan ekonomi dunia pun rata-rata mengalami kontraksi antara minus 4 persen hingga minus 5 persen. Menurut Sri Mulyani itu kontraksi yang cukup dalam sejak Perang Dunia II.

Tahun depan masih ada tantangan yang harus dihadapi untuk pemulihan ekonomi seperti stabilitas sektor kesehatan, banyaknya pengangguran dan krisis sektor usaha serta riil yang berimbas ke sektor keuangan.

Maka selain instrumen fiskal yang stabilitasnya dijaga bersama Bank Indonesia, menurut Sri Mulyani Undang-Undang Cipta Kerja akan membantu mempercepat pemulihan ekonomi di sektor riil tahun depan.

Undang-Undang itu menurut Ryan Kiryanto memang dibuat untuk menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi dengan mempercepat penciptaan lapangan kerja dengan mensinergikan serta menyederhanakan peraturan yang menghambat birokrasi perizinan di sektor keuangan, pertambangan, pertanian, investasi langsung dan sektor riil.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, dalam keterangan tertulisnya 21 Desember 2020 menyatakan seiring membaiknya kinerja ekonomi global membuat kondisi perekonomian dalam negeri akan meningkat tahun 2021.

Hal itu menurutnya berdasarkan sejumlah indikator positif yang terlihat pada November 2020 seperti peningkatan mobilitas masyarakat di beberapa daerah, berlanjutnya perbaikan PMI Manufaktur, menguatnya keyakinan serta ekspektasi konsumen terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha.

Selain Omnibus Law Cipta Kerja, serta pelaksanaan vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol covid19 akan menjadi prasyarat bagi proses pemulihan ekonomi nasional.

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terus mengalami perbaikan pada triwulan IV 2020 pada kisaran minus 1 persen hingga minus 2 persen pada 2020. Sedangkan tahun depan bisa mencapai 4,8 sampai dengan 5,8 persen.

Apalagi stabilitas makroekonomi tetap terjaga, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal.

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait. Seluruh instrumen kebijakan Bank Indoensia akan diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, dengan tetap menjaga terkendalinya inflasi dan memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah, serta mendukung stabilitas sistem keuangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini