Obama Marah Besar ke Trump, Penyebabnya karena Ini

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Selama ini dikenal sebagai sosok yang ramah, ternyata eks Presiden Amerika Serikat Barack Obama bisa menunjukkan amarahnya di hadapan publik.

Ia bernada tinggi ketika berbicara soal kelakuan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengistilahkan Covid-19 dengan sebutan ‘Kung Flu’.

Mengutip New York Times, Senin 29 Juni 2020, Obama menilai pernyataan Trump itu tak seharusnya keluar dari mulut seorang presiden. Kritik Obama ini dia sampaikan saat menghadiri penggalangan dana untuk capres dari Partai Demokrat, Joe Biden, pekan lalu.

“Saya tidak ingin negara tempat presiden AS secara aktif berusaha mempromosikan sentimen anti-Asia dan menganggapnya lucu. Itu membuat saya kesal,” kata Obama.

Sebelumnya, Trump ketika berkampanye di Oklahoma, 20 Juni 2020 lalu, ia kembali menyinggung soal Covid-19 dengan nada mengolok-olok Cina.

“Saya bisa beri nama Kung Flu. Saya dapat memberi 19 versi nama yang berbeda. Banyak yang menyebutnya virus, banyak menyebutnya flu, apa bedanya?” ujar Trump.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini