Negaranya Babak Belur, Presiden Sri Lanka Takkan Mundur

Baca Juga

MATA INDONESIA, KOLOMBO – Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajakpaksa takkan mengundurkan diri meskipun protes meluas. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Pemerintahan Whip dan Menteri Jalan Raya Johnston Fernando dalam menanggapi kritik oposisi.

Sebagaimana diketahui, saat ini ekonomi Sri Lanka tengah babak belur. Negara kepulauan di Asia Selatan itu juga menghadapi kekurangan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya yang parah – bersama dengan rekor inflasi dan pemadaman listrik yang melumpuhkan.

Ini menjadi kondisi paling menyakitkan sejak Sri Lanka merdeka dari Inggris tahun 1948. Selain protes yang meluas, seluruh jajaran kabinet – kecuali sang presiden dan perdana menteri, memutuskan mengundurkan diri berjamaah pada Minggu (3/4) malam waktu setempat.

“Bolehkah saya mengingatkan Anda bahwa 6,9 juta orang memilih presiden,” kata Kepala Pemerintahan Whip dan Menteri Jalan Raya, Johnston Fernando dalam menanggapi kritik oposisi, melansir Reuters, Rabu, 6 April 2022.

“Sebagai pemerintah, kami dengan jelas mengatakan presiden tidak akan mengundurkan diri dalam keadaan apa pun. Kami akan menghadapinya,” sambung sang menteri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini