Musim Pancaroba Berpotensi terjadi Bencana, BPBD Bantul Papras Pohon Hindari Korban Jiwa

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Musim pancaroba diprediksi terjadi pada awal November 2023. Hal itu diawali dengan hujan lebat di sejumlah titik yang ada di daerah termasuk di DIY.

Menanggulangi potensi bencana di peralihan musim atau pancaroba ini sejumlah langkah dilakukan BPBD Bantul. Salah satunya memangkas dahan pohon yang berbahaya untuk menghindari adanya korban tertimpa dahan-dahan tersebut.

“Informasinya yang ingin kami sampaikan sederhana, jadi masyarakat harus merawat pohon-pohon tua yang punya potensi tumbang ketika ada orang yang melintas. Jadi bisa terlihat dari dahan pohon yang berbahaya harus diantisipasi sejak dini,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, Rabu 1 November 2023.

Ia mengingatkan potensi besar jatuhnya korban saat terjadi bencana memang ada di lingkungan sekitar. Menutup Antoni menanggulangi lebih utama untuk menghindari warga terluka.

“Jadi harus diperhatikan betul. Kami juga tetap mendampingi jika memang ada titik rawan (pohon tua) yang ada di Bantul untuk ditangani lebih cepat,” terang dia.

Tak hanya pohon, saluran-saluran air di beberapa rumah warga wajib menjadi perhatian. Tak jarang munculnya banjir lantaran saluran air rumah tangga yang tersumbat.

Menunggu hujan tiba, BPBD juga mengingatkan kepada warga untuk menampung air, terutama warga yang berada di wilayah kesulitan air.

“Awal November bisa jadi turun hujan. Tapi untuk hujan merata baru terjadi di Desember nanti. Memang di November akan hujan, tapi intensitasnya masih sedikit,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini