Mata Indonesia, Kulon Progo – Lonjakan harga minyak goreng sawit bermerek di sejumlah daerah kian mencekik para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di Kabupaten Kulon Progo, para pedagang kuliner kini harus memutar otak demi menjaga kelangsungan usaha di tengah melambungnya biaya operasional.
Kenaikan harga ini terpantau terjadi secara progresif pasca-Lebaran 2026. Alih-alih melandai setelah masa puncak konsumsi hari raya, harga minyak goreng justru kian tak terkendali dan memicu keresahan bagi pedagang makanan yang sangat bergantung pada komoditas tersebut.
Strategi “Pangkas Ukuran” Demi Bertahan
Bagi Sri Wahyuni, pemilik warung makan sederhana di Pasar Wates, kenaikan harga bahan baku adalah ancaman nyata bagi margin keuntungannya yang sudah terbatas.
Ia mengaku tren kenaikan ini sudah mulai terasa sejak sebelum Lebaran, namun kondisinya justru kian memburuk setelahnya.
“Setelah Lebaran harganya malah makin mahal, bukannya turun,” keluh Sri Kamis 16 April 2026.
Menghadapi situasi yang sulit, Sri enggan menaikkan harga jual secara langsung karena khawatir akan ditinggalkan pelanggan.
Ia memilih melakukan penyesuaian pada volume produk, khususnya menu gorengan yang menjadi primadona di warungnya.
“Ukuran gorengan saya kecilkan, tapi harganya tetap sama. Tak ada pilihan lain, karena margin keuntungannya sudah kecil sekali dengan kondisi seperti ini,” jelasnya.
Penyesuaian Harga Sebagai Solusi Realistis
Di sisi lain, Ayu, seorang pengusaha kuliner asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Wates, mengambil langkah yang berbeda. Ia memilih untuk menaikkan harga jual secara gamblang daripada harus merubah fisik produk yang ia tawarkan.
Sebelumnya, Ayu menjual gorengan dengan sistem paket tiga buah seharga Rp2.000. Kini, ia terpaksa mematok harga Rp1.000 untuk setiap satu buah gorengan.
“Naik tipis tidak apa-apa, yang penting usahanya tetap jalan. Kalau ukuran dikecilkan, saya justru khawatir diprotes pembeli,” ungkap Ayu dengan nada kecewa.
Ayu menambahkan bahwa keresahannya tidak hanya terbatas pada minyak goreng, melainkan juga kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok lainnya yang terjadi secara bersamaan. Ia menilai kondisi ekonomi saat ini terasa lebih berat bagi para pedagang kecil.
“Kondisi seperti ini bikin pusing ibu-ibu dan pedagang kuliner seperti saya,” pungkasnya.
Pasokan Menurun, Beban Meningkat
Selain persoalan harga yang membubung tinggi, para pedagang di Pasar Kulon Progo juga mengeluhkan mulai tersendatnya pasokan minyak goreng di pasaran.
Kombinasi antara harga tinggi dan kelangkaan stok ini dikhawatirkan akan memicu efek domino yang lebih luas terhadap harga makanan jadi di tingkat konsumen.
Hingga kini para pelaku usaha berharap pemerintah segera mengambil langkah taktis untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan pasokan, agar sektor UMKM kuliner tidak semakin terpuruk dalam ketidakpastian ekonomi.
